Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Highlight

ePetani
phslb
ktt
Berita


Panen dan Pengamatan Agronomis Perbenihan Kedelai di Kabupaten LombokTengah PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh MFM dan SU   
Senin, 07 Juli 2014 09:55

Kedelai merupakan komoditas strategis, dan menjadi program prioritas pemerintah. Provinsi  Nusa Tenggara Barat (NTB) merupakan salah satu penghasil kedelai nasional. Untuk mendukung swasembada kedelai nasional tahun 2014, target areal penanaman di Nusa Tenggara Barat seluas 100.000 ha. Untuk memenuhi hal tersebut, diperlukan benih kedelai sebanyak 5.000 ton.

Kementerian Pertanian mengamanahkan kepada BPTP NTB untuk memproduksi dan mendistribusikan benih sumber kedelai kelas FS 10 ton, dan kelas SS 250 ton. Untuk menghasilkan benih sumber kedelai kelas FS dan SS, BPTP NTB telah melakukan penangkaran benih kelas FS pada MH 2013/2014, seluas 14 ha di Kabupaten  Bima, dan 6 ha di Kabupaten Lombok Timur. Produksi benih kelas SS sedang dilaksanakan pada MK I di tiga kabupaten yaitu; Kabupaten Bima, Dompu dan Kabupaten Lombok Tengah. Kegiatan penanaman di Desa Pengembur  Kecamatan Pujut Kabupaten Lombok Tengah dilaksanakan sejak 29 Maret sampai 26 April 2014 seluas 79.61 ha dengan varietas Burangrang, Kaba, dan Anjasmoro.

Pada Kamis, (03/17/2014) BPTP NTB melakukan panen benih kedelai di Desa Pengembur Kecamatan Pujut Kabupaten Lombok Tengah. Panen dimulai dengan varietas  Burangrang, dan Kaba, sementara varietas Anjasmoro dipanen pada hari berikutnya, disesuaikan dengan umur panen.

Petugas lapang  BPTP NTB Seniman S.Pi, mengatakan,  benih kedelai yang dipanen saat ini adalah kelas SS, dengan target 1 ton per ha. Tetapi target tersebut sulit tercapai karena adanya iklim yang ekstrim  (tidak ada hujan) di lokasi. Panen dilakukan secara bertahap disesuaikan dengan umur panennya. Hasil benih sumber kelas SS ini akan dikembangkan oleh penangkar lokal pada skala yang luas. Semoga dengan hasil ini, petani di NTB tidak kesulitan mendapatkan benih kedelai pada musim kemarau kedua( MK 2) ”, katanya.

Untuk mendapatkan informasi varietas kedelai yang terbaik dan sesuai dengan kondisi  NTB, pada kegiatan produksi benih kedelai juga dilakukan pengkajian oleh tim peneliti BPTP NTB, dengan melakukan pengamatan benih kedelai yang dipanen di Desa Penggembur.

Salah seorang Peneliti BPTP Nani Herawati, SP mengatakan, tujuan pengamatan untuk mengetahui karakter agronomis dari setiap varietas benih kedelai yang ada  serta untuk mengetahui pengaruh perlakuan pupuk organik terhadap pertumbuhan pertanaman kedelai, sehingga BPTP NTB dapat menghasilkan benih kedelai terbaik.   (Sumber : MFM dan SU)

 
Panen Benih Kedelai Bersama Bupati Bima Di Soromandi PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh DPS   
Jumat, 04 Juli 2014 09:20

Sampai sekarang Indonesia masih mengimpor kedelai, sehingga target swasembada kedelai menjadi prioritas utama pembangunan pertanian. Nusa Tenggara Barat (NTB) merupakan sentra produksi kedelai nasional setelah Jawa Timur dan Jawa Tengah, oleh karena itu pengembangan kedelai di NTB menjadi sangat penting dalam rangka mendukung upaya swasembada kedelai nasional. Selama ini kendala pengembangan kedelai di NTB adalah tersedianya benih kedelai unggul bersertifikat. Sesuai dengan instruksi Menteri Pertanian, Badan Litbang Pertanian melalui BPTP diminta untuk membantu penyediaan benih kedelai bersertifikat kelas FS dan SS.

Tahun 2014 ini BPTP NTB telah mendapatkan benih sumber kelas BS dari Balitkabi sebanyak 1 ton yang pada musim hujan (MH) yang lalu telah ditanam dan menghasilkan benih kelas FS sebanyak 10 ton lebih. Benih kedelai kelas FS tersebut pada musim kemarau I (MK-I) telah ditanam, antara lain di Kabupaten Bima, Dompu, dan Lombok Tengah. Saat ini benih kedelai kelas FS ditangkarkan di penangkar benih kedelai di Desa Punti Kecamatan Soromandi Kabupaten Bima, seluas 15,70 ha.

Pada Kamis (04/07/2014) secara resmi dipanen oleh Bupati Bima, didampingi Kepala BPTP NTB, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bima, para pejabat Kabupaten Bima, Camat, Kepala Desa, PPL, dan anggota kelompoktani di Desa Punti dan sekitarnya.

Dalam sambutannya selesai acara panen, Kepala BPTP NTB Dr. Dwi Praptomo S, menjelaskan bahwa penangkaran kedelai dari kelas FS menjadi kelas SS di kelompoktani SO SARITA Desa Punti yang beranggotakan 47 orang ini menggunakan benih kedelai varietas Burangrang yang berbiji besar, potensi produksi tinggi, dan disukai masyarakat. Dari hasil ubinan yang telah dilakukan, didapatkan produktivitas sebesar 2,5 ton biji kering, ini jauh lebih tinggi dari rata-rata produktivitas kedelai di tingkat petani yang rata-rata 1,2 – 1,5 ton bij kering. Diperkirakan setelah melalui prosessing, benih kelas SS yang dihasilkan di Desa Punti ini mencapai sekitar 15 – 20 ton.

Bupati Bima Drs. H. Syafruddin, dalam sambutannya menyampaikan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada BPTP NTB yang telah banyak membantu para petani Bima, termasuk dalam pengembangan kedelai. Ini juga sebagai tindak lanjut dari MoU yang telah dilakukan pada bulan Maret yang lalu antara Pemkab Bima dengan BPTP NTB, Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi NTB, Bank Indonesia, Bank NTB, dan BPN dalam rangka pengembangan klaster kedelai di Kabupaten Bima. Bupati mengharapkan agar teknologi dari BPTP dapat ditularkan ke masyarakat tani secara lebih luas melalui para PPL yang ada di lapangan.

Acara kemudian dilanjutkan dengan pemberian bantuan peralatan dan mesin pertanian oleh Bupati Bima kepada beberapa kelompoktani yang hadir pada acara panen dan temu lapang pengembangan benih kedelai. Dalam kesempatan tersebut juga dilakukan temu wicara antara Bupati Bima dengan masyarakat petani di Desa Punti dan sekitarnya. Hal-hal yang dibahas dalam temu wicara antara lain menyangkut permintaan masyarakat terkait infrastruktur pedesaan, antara lain jalan, jembatan, pompa air, dan jaringan irigasi, karena di daerah ini banyak lahan kering yang tidak bisa ditanami karena keterbatasan air. Petani banyak mengeluhkan bantuan dan subsidi sarana produksi yang selama ini selalu terlambat sampai ke petani, padahal sudah saatnya tanam dan pemupukan. Dalam menjawab berbagai pertanyaan dan usulan, Bupati Bima berjanji akan memperbaiki infrastruktur secara bertahap. Masalah keterlambatan sarana produksi menurut Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bima karena system pengadaan saprodi yang terpusat, jadi yang menentukan Pemerintah Pusat. Namun ke depan diharapkan sistem ini akan diperbaiki sehingga bantuan saprodi bisa tepat waktu.   (Sumber : DPS).

 


JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL
Joomla Templates by JoomlaVision.com