|
|
Pemantauan Serangan OPT Pada Tanaman Padi di Lombok Barat |
|
|
|
|
Berita
|
|
Oleh Eka Widiastuti & Yuliana Susanti
|
|
Kamis, 13 Juni 2013 00:00 |
|
Pemantauan serangan OPT merupakan kegiatan rutin dan sangat penting yang harus dilakukan selama kegiatan budidaya tanaman padi untuk melihat jenis dan tingkat serangan sehingga bisa dilakukan pengendalian tepat waktu dan sasaran, guna mecegah penyebaran serangan hama dan penyakit lebih luas karena dapat mempengaruhi hasil. Selasa (11/6/2013) dilakukan pemantauan OPT oleh Lalu Wirajaswadi, M.Ed, Ir. M. Zairin, M.Si, Sabar Untung, SP, Yuliana Susanti, SP dan Eka Widiastuti, SP karena adanya laporan dari petani di Desa Plulan, Kecamatan Kuripan Kabupaten Lombok Barat. Lokasi ini merupakan sentra pengembangan padi kegiatan UPBS BPTP NTB yang nantinya akan dijadikan benih yang disebarkan ke petani. Varietas yang dikembangkan Inpari 7, Inpari 10, Inpari 11, Inpari 13, Inpari 18, Inpari 19 dan Inpari 21.
Setelah melakukan pengamatan pada bagian daun, batang serta akar tanaman ditemukan adanya serangan penyakit blas daun yang ditandai dengan adanya bercak kuning berbentuk belah ketupat sampai memanjang dengan bagian pinggir bercak berwarna putih kehitaman yang sangat jelas. Penyakit ini menyerang hampir semua varietas kecuali Inpari 13. Selain serangan blas, ditemukan juga serangan hama putih palsu, hawar daun bakteri dan tungro namun masih dalam intensitas ringan dibandingkan dengan serangan blas. Serangan blas disebabkan oleh jamur karena tingkat kelembaban yang tinggi akibat curah hujan. Sedangkan Inpari 13 terindikasi mengalami keracunan Fe (besi) sehingga daun tanaman berwarna kuning disertai adanya guratan karat. Tindakan pengendalian yang dianjurkan adalah dengan meningkatkan pH tanah melalui pemupukan N.
Selanjutnya pengamatan diteruskan ke Desa Sigerongan di lahan milik H. Saiful yang merupakan salah satu petani binaan UPBS BPTP NTB. Dilokasi ini ditemukan adanya serangan tungro pada varietas Mekongga dan serangan lalat hidrilla pada varietas Situbagendit dengan tingkat serangan terbilang kecil.
Kurangnya pengetahuan petani akan OPT yang menyerang tanaman serta jenis pengendalian yang harus dilakukan menyebabkan kegiatan ini sangat berarti dan ditunggu-tunggu oleh petani. Kedepannya kegiatan semacam ini harus semakin rutin dan kontinyu dilakukan dalam rangka pencegahan lebih awal untuk menekan tingkat serangan hama dan penyakit. (Sumber : Eka Widiastuti & Yuliana Susanti) |
|
|
Pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) Di Lahan Pekarangan POLDA NTB |
|
|
|
|
Berita
|
|
Oleh Eni Fidiyawati dan Farida Sukmawati M
|
|
Rabu, 12 Juni 2013 00:00 |
|
Bertempat di gedung Sasana Dharma Polda NTB, Selasa (11/6/2013) dilaksanakan kegiatan pertemuan rutin pengurus Bhayangkari wilayah NTB, kegiatan tersebut diikuti seluruh anggota pengurus daerah Bhayangkari se-NTB (± 75 orang), dengan mengambil tema tentang “Pemanfatan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) di pekarangan”.
Setelah acara dibuka oleh Ketua Bhayangkari Polda NTB (Ny. Novita Iriawan) tentang pentingnya menjaga kesehatan, acara dilanjutkan dengan sosialisasi tentang pemanfaatan tanaman obat di pekarangan (toga) oleh narasumber Eny Fidiyawati, SP dari BPTP NTB. Dalam kesempatan tersebut dijelaskan tentang pentingnya tanaman obat keluarga (toga) di pekarangan. Selama ini di lingkungan perkotaan dan perkantoran seperti di Polda dan kantor Bhayangkari pekarangan ditanami dengan tanaman hias, buah, dan sayuran. Padahal tanaman obat juga perlu ditanam di pekarangan karena memberikan manfaat yang cukup besar, selain untuk dimasak juga untuk obat keluarga.
Dalam kesempatan tersebut, anggota banyak bertanya tentang manfaat beberapa tanaman, seperti sirih merah, tapak darah, dan kulit buah manggis untuk mengobati beberapa penyakit seperti bronchitis, panas, dan rheumatik. Menurut salah satu pengurus Bhayangkari (NY. Endah Sigit) kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka, tindak lanjut kegiatan M-KRPL yang ada di lingkungan PD Bhayangkari wilayah NTB, dengan banyaknya keluhan penyakit yang muncul, serta tanaman obat dan yang sudah berproduksi, maka pengurus berusaha memfasilitasi anggota guna mengolah dan memanfaatkan hasil pekarangan mereka dari Toga untuk kesehatan mereka. Lebih lanjut dikatakan, untuk kedepannya BPTP NTB mampu memberikan pelatihan untuk mengolah hasil pekarangan seperti tanaman sayur, buah dan toga, karena hasil pekarangan masing-masing anggota cukup banyak dan sudah berlebih untuk mencukupi kebutuhan keluarga mereka. (Sumber : Eni Fidiyawati dan Farida Sukmawati M). |
|
|
|
|
|
|
JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL |