Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Highlight

ktt
ePetani
phslb


Prospek Pengembangan Itik Pedaging di NTB PDF  Array Cetak Array  E-mail
Oleh Farida Sukmawati M dan Sasongko WR   
Senin, 15 April 2013 10:11

Itik merupakan unggas yang sudah cukup dikenal masyarakat sebagai penghasil telur, bahkan dagingnya juga digemari oleh masyarakat luas yang bisa dinikmati di warung  “warteg” pinggir jalan sampai restoran.   Suplai daging itik relatif kurang dibandingkan dengan suplai telur itik.  Daging itik di pasar berasal dari pemotongan itik jantan yang digemukan atau itik betina yang sudah afkir karena produksi telurnya sudah menurun. Itik afkir jelas sudah berumur relatif tua. Ternak yang berumur tua, tekstur dagingnya lebih keras, namun demikian belum banyak peternak khusus itik pedaging seperti pada peternakan ayam pedaging (Broiler).  Itik pejantan yang diharapkan menjadi penghasil daging juga belum bisa diandalkan karena persentase jantan dari setiap penetasan hanya memiliki peluang 50 persen. Itik yang dikategorikan sebagai petelur memiliki karakteristik sesuai tipenya, bentuk badannya relatif lebih ramping dengan volume daging yang rendah.

Melalui perkembangan teknologi persilangan, telah dihasilkan beberapa alternatif ternak itik pedaging, itik dua tipe (petelur dan pedaging) untuk memenuhi kebutuhan daging dan telur itik.  Beberapa jenis itik persilangan yang sudah dihasilkan oleh Balai Penelitian Ternak Ciawi seperti itik Serati dan Itik MA (Mojosari-Alabio).  Itik lokal seperti Mojosari dan Alabio yang disilangkan menghasilkan itik MA yang dikembangkan di Balai Penelitian Ternak Ciawi berpotensi besar sebagai penghasil daging khususnya untuk itik jantan, dengan rataan bobot badan umur delapan minggu dapat mencapai 1.3 kg (Prasetyo, et al, 2005 disitasi Matitaputy, 2012).

Sayangnya masyarakat peternak terutama di luar pulau Jawa masih mengalami kesulitan untuk memperoleh bibit itik MA, karena memang belum diproduksi secara massal.  Mungkin juga masih perlu dilakukan pengamatan-pengamatan terhadap daya adaptasinya.  Sangat disayangkan apabila hasil tersebut tidak dapat dikembangkan lebih lanjut untuk mengatasi persoalan produksi ternak itik yang berkualitas baik dan produksi tinggi.

Sebelumnya  daerah NTB cukup dikenal sebagai daerah produsen telur asin (itik),  dan menjadi salah satu bentuk oleh-oleh bagi wisatawan yang berkunjung ke Lombok, bahkan diperdagangkan  ke luar wilayah NTB.  Ada kriteria tertentu pada telur itik yang digemari yaitu cangkang (kerabang telur) berwarna kehijauan atau kebiruan.  Itik yang memiliki karakteristik telur seperti itu adalah itik Mojosari dan Itik Bali.  Namun kedua jenis itik ini kurang baik untuk menjadi pedaging karena umumnya unggas petelur ini memiliki bentuk tubuh yang ramping, tidak gemuk sehingga kualitas dagingnya relatif rendah.

 

Gambar 1. Perkembangan populasi ternak itik di NTB.

 

Kebutuhan daging itik di NTB yang terus meningkat, mendorong laju pertumbuhan populasi ternak itik, (Gambar 1.).  Populasi  ternak itik tahun 2010 mencapai 568.122 ekor (BPS, 2011).  Harga  itik dewasa rata-rata Rp 60.000/ekor (Disnak Prov. NTB, 2013). Jika bobot umur 8-10 minggu sebesar 1,3 kg dengan persentase karkas sekitar 50%, maka akan diperoleh karkas seberat 650 gr.

Penerapan teknologi diharapkan dapat memperbaiki penampilan itik lokal dalam hal produksi daging. Telah banyak  dilakukan perbaikan manajemen pemeliharaan seperti pemberian pakan seimbang sesuai kebutuhan ternak,  namun perbaikan genetik melalui seleksi dan persilangan masih jarang dilakukan terhadap itik-itik lokal, karena membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang cukup mahal.  Menurut Noor (2008) disitasi oleh Matitaputy (2012), bahwa perbaikan genetik bisa relatif lebih efektif akan memberi dampak yang lebih permanen dibandingkan dengan perbaikan manajemen atau perbaikan pakan.

Itik Pedaging Unggulan Lokal, Itik PMp merupakan  itik tipe pedaging baru yang dikembangkan oleh Balai Penelitian Ternak di Ciawi-Bogor. Kombinasi genetis dari itik ini yaitu itik Peking dan itik Mojosari putih, diharapkan dapat memenuhi kebutuhan konsumen penggemar daging itik. Harapan dari persilangan ini adalah untuk menghasilkan karkas ukuran sedang ataupun besar,  dengan kualitas daging itik yang tinggi.  Bangsa  itik ini  diharapkan dapat mengurangi penggunaan itik tipe petelur untuk memenuhi kebutuhan daging itik yang dikhawatirkan akan mengganggu keseimbangan genetis itik petelur akibat terjadinya pengurasan (pemotongan betina umur produktif, betina dan pejantan kualitas unggul).  Itik PMp memiliki warna bulu putih, warna kulit karkas bersih dan cerah, bobot badan itik MPp umur 10 minggu sekitar 2 -2,5 kg/ekor (Balitnak, Ciawi).

Ini merupakan potensi dan peluang yang menjanjikan bagi peternak itik untuk dapat mengembangkannya lebih lanjut, terutama untuk memenuhi kebutuhan bibit di daerah seperti yang sudah berkembang pada industri ayam. Perkembangan ayam pedaging yang begitu pesat karena ketersediaan industri perbibitan telah mampu memenuhi kebutuhan DOC final stock dan pakan berkualitas. Peningkatan permintaan akan  daging itik di pasaran, memerlukan pemenuhan melalui kesanggupan peternak untuk memproduksi ternak itik.  Ketidakmampuan memenuhi permintaan akan membuka peluang impor, yang akan merugikan peternak dan masyarakat semua.

 

Pustaka

BPS, 2011.  NTB Dalam Angka.  Badan Pusat Statistika Provonsi Nusa Tenggara Barat.

Disnak Prov. NTB, 2013.  Data Harga Komoditi Peternakan di NTB.

Prasetyo, H. 2012. Teknologi Pemuliaan untuk Peningkatan Produksi Itik. Poultry Indonesia.

Matitaputy, R. 2012. Peningkatan Performa dan Produksi Karkas Itik melalui Persilangan Itik Alabio dengan Cihateup.  Makalah Seminar Disertasi. IPB.

LAST_UPDATED2
 
Layanan Perpustakaan BPTP NTB PDF  Array Cetak Array  E-mail
Oleh Hamid Nurtika, Ismail Ahmad dan Sasongko WR   
Kamis, 28 Maret 2013 12:35

Perpustakaan dikenal masyarakat sebagai tempat buku-buku dikoleksi, yang diletakkan dan ditata dengan baik sesuai dengan jenis buku.  Berbagai jenis buku bisa  didapat pada perpustakaan umum, baik buku tentang ilmu pengetahuan, buku-buku karya ilmiah, karya tulis populer atau sekedar karangan cerita fiksi, hikayat, prosa, puisi atau syair. Pada beberapa perpustakaan disediakan tempat baca dan fasilitas lainnya termasuk komputer.  Peran perpustakaan sangat penting untuk memajukan kecerdasan bangsa, itulah sebabnya hampir di setiap sekolah maupun perguruan tinggi terdapat perpustakaan, bahkan di kantor pemerintah maupun swasta.

Beberapa tahun belakangan ini sebagian perpustakaan sudah bisa dikatakan ketinggalan zaman, sehingga menjadi sepi pengunjung.  Mengapa demikian?  Sejak penggunaan komputer dengan jaringan internet-nya semakin marak, masyarakat sudah relatif lebih mudah untuk mencari informasi melalui fasilitas tersebut. Segala informasi bisa diperoleh tanpa dibatasi tempat dan waktu, seseorang bisa mencari informasi yang diinginkannya di mana saja : di rumah, di kantor, di restoran dan lainnya; dan kapan saja selama 24 jam.  Namun bukan berarti komputer dengan internet-nya tanpa ada kekurangannya; karena ada sebagian informasi yang tersedia tidak dapat diakses dengan gratis.

Seperti fungsi perpustakaan masa lalu ketika orang sulit mendapatkan informasi, sehingga mengharuskan  mereka mengunjungi perpustakaan untuk mendapatkan ilmu dan informasi yang dibutuhkan dengan membaca buku-buku yang tersedia di sana. Perpustakaan memang harus mengikuti perubahan kemajuan teknologi di jaman moderen ini (agar tidak ketinggalan jaman). Fungsi perpustakaan di zaman moderen ini bisa membantu pengguna atau pencari informasi  untuk dapat mengatasi  kesulitan, seperti akses informasi yang tidak gratis atau harus mereka bayar.  Sudah banyak perpustakaan yang dilengkapi dengan komputer dan internet, tetapi masih terbatas penggunaannya kecuali menjadi anggota perpustakaan yang bersangkutan.

Di Perpustakaan BPTP NTB, tersedia koleksi buku-buku lama maupun  baru (pada kesempatan lain akan disajikan daftar buku-buku yang tersedia). Tersedia ruang untuk baca dan tersedia komputer yang tersambung jaringan internet.  Terdapat  beberapa jurnal, buletin dan informasi lainnya dari instansi lingkup Badan Litbang Pertanian. Disamping itu Perpustakaan BPTP NTB menyediakan layanan bagi karyawan dan karyawati BPTP NTB maupun dari umum, yang membutuhkan hasil publikasi BPTP NTB seperti liptan, folder, brosur, infotek maupun prosiding.  Jika  membutuhkan artikel jurnal yang berasal dari luar BPTP NTB maupun luar negeri, pustakawan BPTP NTB akan membantu untuk mendapatkan informasinya.

Bagi yang memerlukan informasi yang terkait dengan pertanian (sub sektor Tanaman Pangan, Hortikultura, Peternakan dan Perkebunan) bisa berkunjung ke Perpustakaan BPTP NTB.  Beberapa informasi yang tidak dapat diakses langsung melalui Website BPTP NTB, bisa langsung berkunjung ke Perpustakaan BPTP NTB dan menghubungi pustakawan yang akan membantu yaitu :

  1. Ismail Ahmad, BSc.
  2. Hamid Nurtika, AMD.

Diharapkan Perpustakaan BPTP NTB selalu dapat memberikan layanan baik bagi semua pihak yang membutuhkan informasi tentang ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya bidang pertanian (tanaman pangan, hortikultura, peternakan dan perkebunan).

 

 
Peran Penyuluh Dalam Upaya Meningkatkan Produktifitas Padi Mendukung Swasembada Pangan PDF  Array Cetak Array  E-mail
Oleh M. Faesal Matenggomena   
Kamis, 14 Maret 2013 09:02

Dalam upaya swasembada pangan, Kementerian Pertanian menerapkan 4 startegi dalam meraih surplus beras 10 juta ton yaitu perbaikan manajemen, peningkatan produktifitas, perluasan areal, pengelolaan lahan, serta penurunan konsumsi beras (Sinar Tani Mei 2012).

Dalam 5 tahun terakhir menurut angka ramalan (ARAM) II Badan Pusat Stastik (BPS) komoditas padi meningkat  3,44%/ tahun dari 60,32 juta ton GKG pada tahun 2008 menjadi 68,96 juta ton GKG pada tahun 2012 (ARAM II) sedangkan laju peningkatan produktivitas mencapai 1,14%/tahun dan luas panen meningkat rata-rata 2,26 %/tahun, hal ini menunjukan arah pencapaian swasembada pangan padi. Target Kementerian Pertanian dalam upaya swasembada yaitu rata-rata peningkatan sebesar 3,4%/ tahun (Sinar Tani Desember 2012).

Peningkatan produktifitas padi tidak terlepas dari petani sebagai pelaku utama yang  memiliki kemampuan untuk mengaplikasikan teknologi yang dibutuhkan dalam kegiatan usaha taninya, termasuk kegiatan pendampingan dan penyuluhan. Peranan penyuluh sangat penting dalam mengembangkan kemampuan petani, karena penyuluhan pertanian adalah suatu sistem pendidikan di luar sekolah untuk para petani dan keluarganya, sehingga secara khusus memiliki sifat tujuan sasaran struktur pelaksanaan dan pendekatan yang khusus pula (Padmanegara,1987)

Secara kelembagaan penyuluh pertanian mempunyai tugas dan fungsi penyuluh: 1) sebagai simpul komunikasi dan interaksi antara berbagai instansi, 2) mengembangkan kemampuan petani, 3) sebagai lembaga penyampai ilmu dan teknologi. Dalam hal ini  perlu ada upaya perbaikan manajemen penyuluhan untuk merubah perilaku petani yang menggunakan kegiatan usaha taninya secara tradisional, adanya upaya merubah perilaku petani, akan mempengaruhi produktifitas usaha tani padi.

Tulisan ini bertujuan memberikan gambaran pelaksanaan pendampingan penyuluhan dalam upaya meningkatkan produktifitas  padi melalui studi pustaka.

 

Kegiatan yang diterapkan dalam meningkatkan produktifitas padi

Salah satu kegiatan yang mendorong peningkatan produktifitas padi adalah kegiatan Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) yang dimulai sejak tahun 2008. Dalam SL-PTT petani dapat belajar langsung di lapangan melalui pembelajaran dan penghayatan langsung (mengalami), mengungkapkan, menganalisis, menyimpulkan dan menerapkan (melakukan/mengalami kembali), menghadapi dan memecahkan masalah-masalah terutama dalam hal teknik budidaya dengan mengkaji bersama berdasarkan kondisi spesifik lokasi.

Melalui penerapan SL-PTT petani akan mampu mengelola sumberdaya yang tersedia secara terpadu dalam melakukan budidaya di lahan usahataninya yang spesifik lokasi sehingga petani menjadi lebih terampil serta mampu mengembangkan usahataninya dalam rangka peningkatan produksi padi. Melalui SL-PTT diharapkan petani/kelompok tani nantinya akan mampu mengambil keputusan atas dasar pertimbangan teknis dan ekonomis dalam setiap tahapan budidaya usahataninya serta mampu mengaplikasikan teknologi secara benar sehingga meningkatkan produksi dan pendapatannya.

Namun demikian wilayah di luar SL-PTT harus tetap dilakukan pembinaan, pendampingan dan pengawalan sehingga produksi dan produktivitas tetap dapat meningkat, sehingga peranan penyuluh di lapangan sangatlah penting untuk membimbing dan mengarahkan petani agar lebih terampil dalam meningkatkan produktifitas padi.

 

Fungsi dan peranan penyuluh pertanian

Pemerintah telah melakukan berbagai upaya, di antaranya telah dicanangkannya Revitalisasi Penyuluhan Pertanian (RPP), yaitu suatu upaya mendudukkan, memerankan dan memfungsikan serta menata kembali penyuluhan pertanian agar terwujud kesatuan pengertian, kesatuan korp dan kesatuan arah kebijakan. Salah satu tonggak untuk pelaksanaan revitalisasi ini adalah telah disyahkannya Undang-undang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (SP3K) No. 16 Tahun 2006 pada tanggal 18 Oktober 2006. UU ini merupakan suatu titik awal dalam pemberdayaan para petani melalui peningkatan sumberdaya manusia dan kelembagaan para penyuluh pertanian PNS, swasta dan penyuluh pertanian swadaya

Didalam Undang-undang No 16 tahun 2006 yang dimaksud dengan penyuluhan adalah proses pembelajaran bagi pelaku utama serta pelaku usaha agar mereka mau dan mampu menolong dan mengorganisasikan dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi, permodalan, dan sumberdaya lainnya sebagai upaya untuk meningkatkan produktifitas, efisensi usaha, pendapatan dan kesejahteraanya, serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup. Pelaku utama dalam kegiatan pertanian adalah petani beserta keluarga intinya.

Hanafi (1986) menyatakan bahwa penyuluh pertanian berfungsi sebagi mata rantai, penghubung antara dua sistem sosial, yaitu pemerintah /dinas lingkup pertanian dengan masyarakat tani. Disamping itu peranan penyuluh sebagai guru pertanian, penasehat, penganalisis dan sebagai organisatoris, serta sebagai kawan yang memberi dorongan bekerja (Mosher, 1968).

Dari uraian tersebut terlihat jelas peranan penyuluh pertanian dalam meningkatkan produktifitas padi dengan melakukan proses pembelajaran kepada pelaku utama yaitu petani, agar mampu mengaplikasikan teknologi yang sesuai dengan spesifik lokasi melalui kegiatan SL-PTT padi ataupun diluar SL-PTT, dan sebagai penghubung antar pemerintah dan petani. Jika terjadi permasalah dilahan tempat menanam padi, petani biasanya akan berkonsultasi dengan penyuluh. Hasilnya akan disampaikan dan didiskusikan dengan pemerintah daerah, selanjutnya ke pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Pertanian untuk mengeluarkan   kebijakan.

 

Peran penyuluh untuk meningkatkan produktifitas padi

Menurut Mardikanto (1996), penyuluhan merupakan suatu sistem pendidikan di luar sekolah yang tidak sekedar memberikan penerangan atau menjelaskan, tetapi biasanya untuk mengubah perilaku sasarannya agar memiliki pengetahuan yang luas. Disamping itu juga memiliki sifat progressif untuk melakukan perubahan dan inovatif terhadap sesuatu (inovasi baru) serta terampil melaksanakan berbagai kegiatan yang bermanfaat bagi peningkatan produktifitas, pendapatan atau keuntungan, maupun kesejahteraan keluarga dan masyarakat.

Penyuluhan pertanian dilaksanakan untuk menambah kesanggupan para petani dalam usahanya memperoleh hasil-hasil yang dapat memenuhi keinginan mereka tadi. Jadi penyuluhan pertanian tujuannya adalah perubahan perilaku  petani, sehingga mereka dapat memperbaiki cara bercocok tanamnya, lebih beruntung usahataninya dan lebih layak hidupnya, atau yang sering dikatakan keluarga tani maju dan sejahtera.

Untuk mengefektifkan penyuluh, Kementerian Pertanian melakukan kegiatan demfarm yaitu demonstrasi yang dilaksanakan oleh beberapa orang petani dalam kelompok tani pada luasan hamparan 1-5 hektar dalam waktu bersamaan. Agar penyuluh pertanian handal dalam mendampingi petani dalam meningkatkan produktifitas padinya, perlu dilakukan peningkatan kemampuannya seperti mengikuti pelatihan dan magang teknik budidaya padi dengan teknologi terbaru spesifik lokasi.

Penyuluh pertanian dituntut menyampaikan pesan yang bersifat inovatif yang mampu mengubah dan mendorong perubahan perilaku petani sehingga terwujud perbaikan mutu hidup. Pesan yang disampaikan kepada petani dalam berbagai bentuk yang meliputi informasi teknologi, rekayasa sosial, manajemen, ekonomi, hukum dan kelestarian lingkungan.

Materi penyuluhan dibuat tidak hanya sekedar peningkatan produksi namun menyesuaikan dengan isu global yang lain, seperti upaya menyiapkan petani dalam mengatasi persoalan iklim global. Petani perlu dikenalkan dengan sarana produksi yang memiliki adaptasi tinggi terhadap goncangan iklim karena akan berpengaruh kepada rawan pangan dan pengurangan produktifitas padi. Selain itu materi penyuluhan perlu berorientasi pada teknik bertani yang ramah lingkungan, seperti penggunaan pupuk organik dalam meningkatkan produktifitas padi dan  mengurangi penggunaan pupuk kimia yang berlebihan.

Penutup

Peranan penyuluh sangatlah penting melakukan perubahan perilaku petani terhadap sesuatu (inovasi baru), serta terampil melaksanakan berbagai kegiatan yang bermanfaat bagi peningkatan produktifitas, pendapatan atau keuntungan, maupun kesejahteraan petani.

Dalam melakukan pembinaan, pendampingan, dan pengawalan terhadap program pemerintah untuk meningkatkan produksi padi, hal ini diperlukan ketrampilan, pengetahuan penyuluh terhadap teknologi spesifik lokasi dan kemampuan malakukan pendekatan dan komunikasi dalam hubungannya dengan petani. Sehingga target swasembada pangan, terutama padi bisa tercapai.

 

Sumber :

Syam A, Sutisna E, 1996. Dukungan BPTP Sulawesi Tenggara Dalam Penyelenggaraan Penyuluh Pertanian Di Sulawesi Tenggara. Prosiding Seminar Nasional dan Ekspose Hasil Penelitian. Kendari Sulsel.

 

Marliati, Sumardjo,  Asngari P, Tjitropranoto P , Saefuddin A,  2008. Faktor-faktor Penentu Peningkatan Kinerja Penyuluh Pertanian Dalam Memberdayakan Petani. Jurnal Penyuluh. IPB.

 

Inraningsih K S, 2010. Kinerja Penyuluh dari Prespektif Petani dan Eksistensi Penyuluh Swadaya Sebagai Pendamping Penyuluh Pertanian.PSEKP

 

Cia, Som, 2012. Penyuluh dan Peluangcapai Surplus Beras, Sinar tani edisi 16-22 Mei 2012 No 3457 Tahun XLII.

 

Echa, Tia, Cia, 2012. Menapak Titian Swasembada Pangan. Sinar Tani Edisi 26 Desember 2012 – Januari 2012 No 3488 tahun XLIII

 

Aninomus, 2013. Pedoman Teknis SL-PTT padi dan jagung tahun 2013. Kementerian Pertanian Direktorat Tanaman Pangan Jenderal Tanaman Pangan. Jakarta.

 
Kegiatan Sistem Pertanian Terpadu Lahan Kering Iklim Kering (SPT-LKIK) Di Kabupaten Sumbawa, Provinsi NTB PDF  Array Cetak Array  E-mail
Oleh Ahmad Suriadi   
Rabu, 13 Maret 2013 08:42

Lahan kering adalah hamparan lahan yang tidak pernah tergenang air pada sebagian besar waktu dalam setahun. Lahan kering merupakan salah satu ekosistem sumberdaya lahan yang mempunyai potensi besar untuk pengembangan pertanian, baik tanaman pangan, hortikultura, maupun perkebunan. Mengingat potensinya yang besar, maka pengembangan lahan kering perlu didorong dan ditingkatkan. Mengembangkan pertanian lahan kering merupakan pilihan strategis dalam menghadapi tantangan peningkatan produksi pertanian untuk mendukung program ketahanan pangan nasional.

Tim pengkajian dari BPTP NTB bersama Konsorsium Pengembangan Lahan Kering Pusat dan SKPD terkait di Provinsi NTB telah melakukan pengkajian sistem pertanian terpadu lahan kering iklim kering di Desa Puncak Jeringo Kecamatan Suela Kabupaten Lombok Timur sejak tahun 2011 sampai 2013. Kegiatan tersebut akan dikembangkan di salah satu lokasi Kawasan Unggulan NTB di Kuang Bira, Desa Motong, Kecamatan Utan, Kabupaten Sumbawa. Dalam rangka pelaksanaan kegiatan tersebut maka telah dilakukan sosialisasi dan koordinasi dengan SKPD terkait di Kantor BAPPEDA Kabupaten Sumbawa pada tanggal 30 Januari 2013.

Sebelum pertemuan dilakukan, tim telah melakukan kunjungan lapang ke lokasi pengembangan SPT-LKIK di Blok Kuang Bira, Desa Motong Kecamatan Utan Kabupaten Sumbawa.

Pertemuan dengan kelompok tani

Pertemuan dilaksanakan di lahan petani dihadiri oleh ketua dan anggota dari 3 kelompok tani (Kuang Bira I, II dan III) dan 2 penyuluh (Surono, SP dan L. Rahmat Hidayat, SP) dari Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Kecamatan Utan Kabupaten Sumbawa. Tujuan pertemuan di tingkat kelompok tani adalah untuk menggali informasi awal tentang potensi dan permasalahan sumberdaya lahan dan air, ternak dan budidaya pertanian serta kelembagaan.

Jumlah anggota kelompok tani sebanyak 65 orang terdiri atas kuang bira I:21 orang, II: 22 orang dan III: 22 orang. Pemilikan lahan untuk ketiga kelompok tani tersebut seluas 131 ha yang terdiri dari lahan kering dan lahan sawah. Komoditas pertanian yang biasa diusahakan meliputi jagung (76 ha), padi gogo (2 ha), sayuran (1,5 ha) dan sisanya dipergunakan sebagai padang penggembalaan ternak sapi. Sebagian besar pola tanam adalah padi gogo lokal-bero dan jagung-bero. Varitas jagung yang dibudidayakan oleh petani adalah varitas hibrida (Pioneer, Bisi, NK dll), dengan produktifitas sekitar 7-9 ton/ha pipilan basah. Sayuran yang umumnya di budidayakan oleh petani adalah kacang panjang, mentimun dan cabe merah. Sapi bantuan dari Dinas Peternakan Provinsi NTB sejumlah 130 ekor melalui program Bumi Sejuta Sapi (BSS). Selain itu masyarakat telah memiliki sapi secara perorangan sekitar 3-4 ekor per KK.

Kondisi Sumberdaya lahan dan air:

Sebagian besar lahan yang dimiliki oleh ketiga kelompok tani mempunyai topografi datar sampai berombak dengan lereng <8%, batu permukaan sedikit, tanah berwarna gelap (mollisols) dengan tingkat kesuburan sedang.

Berdasarkan informasi dari petani bahwa sumber air berasal dari Sungai Brang Ana yang berjarak sekitar 10 km dari lahan petani. Untuk saat ini, telah ada jaringan irigasi dengan pipanisasi (D=6 inch) bantuan dari Dinas PU Provinsi NTB. Air tersebut ditampung pada bak penampung berukuran 4,5x4,5x1,7m sebanyak 5 buah yang tersebar di lahan petani, yang diharapkan dapat mencukupi kebutuhan usahatani non padi sawah seluas 150 ha dan ternak.

Permasalahan

Permasalahan yang paling mendasar yang dirasakan oleh petani adalah keterbatasan air. Jaringan air yang ada baru sampai pada bak penampungan dan belum dapat dialirkan ke lahan petani. Untuk sementara air baru digunakan untuk minum sapi milik beberapa anggota kelompok yang lahannya dekat dengan bak penampungan.

Jalan usahatani menuju lokasi kondisinya rusak berat dan 2 jembatan terputus sehingga aksesibilitas kurang lancar dan hanya bisa dilalui menggunakan kendaraan roda 2.

Petani belum mengenal sistem budidaya yang lebih maju seperti sistem relay planting sehingga IP masih 100. Petani belum mengenal varitas padi gogo yang produktivitasnya lebih tinggi dan hanya mengenal jagung hibrida sedangkan jagung komposit belum dikenal.

Pemupukan yang dilakukan petani sangat tinggi (melebihi rekomendasi) yaitu urea 300-400 kg/ha, sedangkan rekomendasi urea umumnya 250 kg/ha. Hal ini berdampak terhadap kuota pupuk untuk seluruh lahan menjadi tidak cukup.

Ketersediaan pakan sapi pada musim hujan masih mencukupi, sedangkan pada musim kemarau terbatas dan sering terjadi kekurangan pakan dan berakibat terhadap penurunan bobot badan dan kematian anak yang tinggi. Kasus penyakit yang umum terjadi adalah penyakit mata akibat serangan cacing. Pemanfaatan dan pengolahan limbah ternak belum dilakukan.

Pertemuan koordinasi dan sosialisasi dengan Pemerintah Kabupatean Sumbawa

Sebelum pertemuan dimulai, tim Litbang Pertanian menjelaskan maksud dan tujuan kunjungan kepada Sekretaris BAPPEDA. Setelah itu dilakukan sosialisasi presentasi kegiatan Pengembangan SPT-LKIK dan pengenalan mangga garifta.

Pertemuan dilaksanakan di kantor BAPPEDA Kabupaten Sumbawa yang dihadiri oleh:

Bapeluh Kabupaten Sumbawa (2 orang), Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (1 orang), Dinas Peternakan (1 orang), Dinas PU (2 orang), Dinas Kehutanan dan Perkebunan (1 orang), BAPPEDA Kabupaten Sumbawa (5 orang), Tim Badan Litbang Pertanian (8 orang).

Hasil diskusi sebagai berikut:

  1. Respon Pemda Kabupaten Sumbawa sangat baik dan mereka akan mendukung kegiatan SPT-LKIK meskipun anggaran untuk tahun 2013 telah ditetapkan dan mereka berharap dapat mengusulkan anggaran melalui dana tugas pembantuan (TP) dan APBD Perubahan.
  2. Mereka mengharapkan adanya grand design SPT-LKIK untuk menentukan kontribusi dari masing-masing SKPD terkait.
  3. SKPD mengharapkan pelatihan teknologi inovatif Badan Litbang Pertanian untuk para penyuluh dan petani.
  4. Dinas PU akan membantu mengalokasikan sarana dan prasarana jaringan irigasi sesuai dengan design tim Badan Litbang.
  5. Dinas Pertanian akan segera mengajukan proposal bantuan bibit mangga garifta ke Ditjen Hortikultura, (yang bibitnya diproduksi oleh Badan Litbang Pertanian).
  6. Akan dilakukan kunjungan lapang bersama ke lokasi dari SKPD terkait dengan Tim Badan Litbang Pertanian.
  7. Dinas Pertanian Kabupaten Sumbawa akan menindaklanjuti peluang penanaman mangga garifta di lokasi terasebut minimal seluas 10 ha.

Rencana Tindak Lanjut :

  1. Perlu dilakukan koordinasi internal Badan Litbang Pertanian untuk meyusun grand design dan kontribusi masing-masing UK-UPT.
  2. Alternatif teknologi dan komoditas yang akan dikembangkan
    • Design optimalisasi sistem irigasi dan lahan
    • Komoditas Tanaman Pangan dan hortikultura (jagung, padi gogo, kacang hijau, sayuran, mangga garifta),
    • Komoditas Ternak Sapi (bank pakan dan pengolahan limbah ternak, intensifikasi kawin alam, introduksi rumput padang penggembalaan)
  3. Workshop pemantapan kegiatan SPT-LKIK.
 
Penerapan Teknologi dan Analisis Usahatani pada Laboratorium Lapang (LL) dalam Kegiatan SL-PTT Padi di Lombok Barat PDF  Array Cetak Array  E-mail
Oleh M. Faesal Matenggomena   
Jumat, 08 Februari 2013 10:16

Pendahuluan

Tanaman pangan, khususnya padi merupakan tanaman pokok yang diusahakan oleh sebagian besar petani di Indonesia.  Padi merupakan bahan makanan yang menghasilkan beras. Bahan makanan ini merupakan makanan pokok bagi sebagian besar penduduk Indonesia. Dalam upaya memenuhi kebutuhan beras Penduduk Indonesia dan mengantisipasi krisis pangan, Kementerian Pertanian menargetkan swasembada pangan untuk komoditas padi, dapat dilihat pada tabel 1 berikut:

 

Tabel 1. Target produksi padi di Indonesia tahun 2010 – 2014.

Komuditas

Tahun 2010

Tahun 2011

Tahun 2012

Tahun 2013

Tahun 2014

Rata-rata pertumbuhan pertahun

Padi

(juta ton)

66,47

65,72

67,82

72,06

76,57

3,64%

Sumber : Sinar Tani Desember 2012

 

Target Kementerian Pertanian untuk komuditas padi seperti pada tabel 1. rata-rata pertumbuhannya pertahun adalah 3,64%, dari tahun 2010 sampai tahun 2014. Untuk mencapai hal tersebut dilakukan upaya swasembada pangan, salah satunya dengan peningkatan produktifitas padi.

Untuk meningkatkan produktifitas padi dilakukan dengan mengitroduksi pengelolaan tanaman dan sumber daya terpadu (PTT) yang diterapkan melalui rekayasa sosial Sekolah Lapang PTT Padi, dengan menerapkan inovasi teknologi yang lebih produktif dan efisien.

Sekolah Lapang PTT tidak terikat dengan ruang kelas, sehingga belajar dapat dilakukan di saung pertemuan petani dan tempat-tempat lain yang berdekatan dengan lahan usahatani. Dalam kegiatan SL-PTT terdapat satu unit Laboratorium Lapang (LL) yang merupakan bagian dari kegiatan Sekolah Lapang PTT, sebagai tempat bagi petani atau anggota kelompoktani untuk melaksanakan seluruh tahapan SL-PTT pada lahan tersebut. Luas satu unit SL-PTT adalah antara 10 - 25 ha, dan satu unit Laboratorium Lapang (LL) seluas 1 hektar.

Peningkatan produktifitas padi bisa terhambat di tingkat petani yang masih menggunakan pola lama dalam kegiatan usahatani, dengan tidak memperhatikan  teknologi terbaru yang berkembang.

Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui kegiatan usahatani yang dilakukan oleh petani pelaksana Laboratorium Lapang (LL) dengan luas lahan 1 hektar, dalam kegiatan SL-PTT padi dan menganalisa biaya dan pendapatan di tingkat petani.

 

Pengertian Dalam Kegiatan Usahatani  Padi

  1. Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu (PTT) adalah suatu pendekatan inovatif dalam upaya meningkatkan produktivitas dan efisiensi usahatani melalui perbaikan sistem / pendekatan dalam perakitan paket teknologi yang sinergis antar komponen teknologi, dilakukan secara partisipatif oleh petani serta bersifat spesifik lokasi.
  2. Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu (SL-PTT) adalah suatu tempat pendidikan non formal bagi petani untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan dalam mengenali potensi, menyusun rencana usahatani, mengatasi permasalahan, mengambil keputusan dan menerapkan teknologi yang sesuai dengan kondisi sumberdaya setempat secara sinergis dan berwawasan lingkungan sehingga usahataninya menjadi efisien, berproduktivitas tinggi dan berkelanjutan.
  3. Laboratorium Lapang (LL) adalah kawasan area yang terdapat dalam kawasan SL-PTT yang berfungsi sebagai lokasi percontohan, tempat belajar dan tempat praktek penerapan teknologi yang disusun dan diaplikasikan bersama oleh kelompok tani /  petani.
  4. Usahatani menurut Mosher (1968) merupakan suatu organisasi produksi, petani sebagai pelaksana untuk mengorganisasi lahan, tenaga kerja dan modal yang ditujukan kepada produksi di lahan pertanian baik yang didasarkan  atas laba atau tidak.
  5. Petani adalah perorangan Warga Negara Indonesia beserta keluarganya yang mengelola usaha di bidang pertanian.
  6. Pendapatan usahatani adalah selisih antara penerimaan dengan semua biaya yang dikeluarkan.

 

Metode Pengambilan Data

Pengambilan data dilakukan di Desa Gegelang Kecamatan Lingsar Lombok Barat, dengan malakukan wawancara dengan salah satu petani yang berhasil melaksanakan kegiatan Laboratorium Lapang (LL) di lahan sawah padi seluas 1 hektar, pada bulan nopember 2012. Data usahatani dalam kegiatan ini di analisis dengan menggunakan analisis biaya dan pendapatan.

 

Hasil Kegiatan Usahatani padi

1.  Persiapan lahan

Lahan yang akan digunakan dibajak menggunakan traktor secara sempurna, yakni dibajak 2 kali, digenangi air sampai lahan lunak dan berlumpur, kemudian diratakan.

2. Pemilihan benih

Agar didapat bibit tanaman padi sehat dilakukakan langkah-langkah sebagai berikut :

  1. Menggunakan benih bermutu atau berlabel
  2. Memisahakan benih yang berisi dari benih setengah berisi dalam air, benih yang kurang berisi akan mengapung diatas permukaan air.
  3. Benih yang berisi dibilas dan direndam dengan air selama 24 jam, setelah itu benih ditiriskan dan kemudian di simpan selama 48 jam.
  4. Persemaian

Penanaman bibit padi tidak terlalu rapat pada bedeng persemaian, selanjutnya dilakukan pemupukan dengan mengkombinasi pupuk kompos dengan pupuk kimia, pada saat pemindahan bibit dari persemaian kurang dari 20 hari, agar mudah dicabut dan diangkut tanpa menimbulkan kerusakan pada akar, disamping itu benih padi umur muda tidak mengalami stres.

3. Penanaman

Penanaman dilakukan 1 batang per rumpun dengan pola tanam secara tandur jajar dan jarak  tanamnya  25 x 25 cm.

4. Pemupukan

Cara pemupukan dilakukan menggunakan pupuk dasar dan pemupukan susulan pertama umur padi 20 hari setelah tanam, dan pemupukan susulan kedua umur padi 35 hari setelah tanam.

5. Pengairan

Pengairan dilakukan berselang 4 hari basah 3 hari kering, dari fase anakan maksimal (50 hari setelah tanam). Mulai fase pembentukan malai sampai pengisian biji, petakan sawah digenangi terus (50-85 hari setelah tanam), 10 -15 hari sebelum panen sawah dikeringkan.

 

Analisa Usahatani Padi dalam Kegiatan  Laboratorium Lapang (LL).

Biaya produksi dan pendapatan yang diperoleh oleh petani padi dalam kegiatan Laboratorium Lapang (LL),  dapat dilihat pada tabel 2 berikut;

Tabel 2. Biaya produksi dan pendapatan petani padi dalam 1 hektar lahan

No

Uraian

Banyaknya

harga satuan (Rp)

Jumlah (Rp)

1

Benih padi (kg)

10

6.000

60.000

2

Pupuk

 

 

 

 

Urea (kg)

250

1.800

450.000

 

NPK pelangi (kg)

100

2.350

235.000

 

SP36 (kg)

50

2.400

120.000

3

Obat-obatan

 


 

 

Virtako (100 ml)

2

150.000

300.000

 

Scor (100 ml)

2

40.000

80.000

 

Matador (250)

1

45.000

45.000

4

Tenaga kerja (orang)

 

 

 

 

Persemaian

2

Borongan

150.000

 

Bajak

2

Borongan

1.300.000

 

Tanam

20

Borongan

2.000.000

 

Pengairan

1

Borongan

500.000

 

Panen

15

Borongan

4.080.000

5

Total biaya Produksi

 

 

9.320.000

6

Penerimaan

10.000 (Kg)

4.100

41.000.000

7

Pendapatan bersih

 

 

31.680.000

8

R/C  rasio

 

 

4,4

Sumber : data primer yang diolah

 

Penggunaan biaya produksi yang digunakan untuk usahatani padi pada pelaksanaan kegiatan Laboratorium Lapang (LL) seluas 1 hektar sebesar Rp 9.320.000 dan pendapatan bersih yang diterima oleh petani Rp 31.680.000, sedangkan untuk kelayakan usahatani dapat dilihat dari R/C rasio sebesar 4,4 yang memberikan kelayakan pada usahataninya.

 

Kesimpulan

  1. Kegiatan usahatani padi pada pelaksanaan Laboratorium Lapang (LL) dalam kegiatan SL-PTT mencapai produksi sekitar 10 ton / ha
  2. Total biaya produksi yang dikeluarkan oleh petani  dalam kegiatan usahatani sebesar Rp. 9.320.000
  3. Pendapatan bersih yang diperoleh oleh petani sebesar Rp. 31.680.000, dengan R/C rasio sebesar 4,4 dan sangat layak sekali untuk di usahakan.

Saran

Berdasarakan hasil usahatani dan kesimpulan dapat disarankan kepada petani agar mengikuti paket teknologi yang diterapkan pada lahan Laboratorium Lapang (LL) dalam kegiatan SL-PTT untuk meningkatkan produksi dalam kegiatan usahataninya, sehingga target swasembada pangan dapat tercapai.

 

Daftar Pustaka

Anonimus, 2010. Loparan Kegiatan Pemandu Lapang II SL-PTT Padi Tahun 2010. Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura Provinsi NTB. Mataram.

 

Echa, Tia, cia, 2012. Menapak Titian Swasembada Pangan. Sinar Tani Edisi 26 Desember 2012 – januari 2012 No 3488 tahun XLIII

 

Soemarno, 1996. Model Pengembangan sistem Agribisnis Kacang Tanah di Indonesia. Risalah seminar nasional Prospek Pengembangan Agribisnis Kacang Tanah Di Indonesia. BALITKABI.

 

Aryawati S, Sutami NP. 2009. Analisis Usaha Tani Cabai Merah di Tingkat Petani.Bulletin Teknologi Dan Informasi Pertanian BPTP Bali. Bali

 

Anonimus, 2008. Pedoman Umum Sekolah Lapang PTT Padi. BPSDMP Pusat Penyuluh Pertanian Departemen Pertanian. Jakarta.

 
JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL
Joomla Templates by JoomlaVision.com