Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Highlight

ktt
ePetani
phslb
Tekno Inovatif

Kalender Kegiatan



Kebun Koleksi Sumberdaya Genetik Di BPTP NTB PDF  Array Cetak Array  E-mail
Oleh Muji Rahayu dan Fitrahtunnisa   
Rabu, 12 Maret 2014 09:34

Nusa Tenggara Barat (NTB) terdiri dari gugusan dua pulau besar dan ratusan pulau kecil serta memiliki bentang alam yang luas dan terletak pada garis Wallace yaitu daerah peralihan antara Asia dan Australia. Dengan kondisi seperti itu tentu NTB memiliki keragaman sumberdaya genetik flora dan fauna yang tersebar dari puncak gunung hingga dasar lautan yang memiliki potensi tak terbatas untuk dimanfaatkan dan dikagumi.

Fenomana keragaman sumberdaya genetik khususnya sumberdaya genetik tanaman di NTB berangsur menurun. Sebagai gambaran di sekitar kita sekarang ini sangat sulit kita temukan buah dan tanaman juwet, wuni, delima, rukem,  beras bulu, beras merah, bunga jengger ayam, bunga sondo langit, namun lebih mudah kita jumpai buah dan tanaman anggur merah, strawberry, bunga violces dan lain-lain. Menurut Wilson 1988, laju kepunahan rata-rata saat ini diduga 1 dari 1000 spesies per tahun dan kepunahan itu terjadi sejak manusia mulai mengeksplotasi sumberdaya genetik yang ada. Secara harfiah manusia memang memiliki sifat bosan, hal itu yang memicu kebutuhan manusia selalu berubah. Orang Indonesia mulai menyukai buah sub-tropik, sedangkan orang Amerika dan Eropa mulai menyukai buah tropik seperti mangga, nenas, belimbing dan sebagainya. Kondisi itu tentu sangat wajar dan sangat baik jika berdampak pada meningkatnya sumber keragaman yang diusahakan di tingkat petani dan bukan sebaliknya, yang mengakibatkan sumberdaya genetik lokal semakin jarang ditemukan atau bahkan musnah dari lingkungan kita.

Sumberdaya genetik tanaman lokal memiliki sifat-sifat yang dapat diturunkan dengan baik, apakah sifat ketahanannya terhadap iklim, ketahanan terhadap serangan hama penyakit tanaman, rasa yang khas dan kuat, produksi yang tinggi dan sebagainya.  Oleh karenanya keragaman sumberdaya genetik lokal hendaknya dapat dikelola dengan baik agar masyarakat dapat memperoleh manfaatnya baik secara langsung maupun tidak langsung misalnya dipergunakan sebagai materi dalam upaya perbaikan varietas tanaman.

Berkaitan dengan upaya pengelolaan sumberdaya genetik, BPTP NTB telah mengkoleksi beberapa sumberdaya genetik lokal di dua lokasi yang memiliki kondisi iklim yang berbeda. Untuk kelompok tanaman yang toleran kekeringan di koleksi di Kebun Percobaan (KP) Sandubaya, Kabupaten Lombok Timur, sedangkan kelompok tanaman yang toleran lahan basah dikoleksi di KP. Narmada, Kabupaten Lombok Barat.

Beberapa jenis-jenis tanaman yang dikoleksi di KP. Sandubaya Lombok Timur adalah :

1. Kacang Tunggak (Vigna unguiculata)

Kacang tunggak atau “antap” (bahasa Sasak) dikoleksi  berdasarkan petimbangan bahwa tanaman ini cocok dikembangkan di NTB karena memiliki sifat toleran terhadap lahan kering.  Terdapat 4 aksesi kacang tunggak dikoleksi,  yaitu yang memiliki warna kulit biji coklat, belang, putih dan hitam. Potensi hasilnya cukup tinggi, mencapai 1,5-2,0 t/ha, bergantung varietas, lokasi, musim tanam, dan teknologi budidaya yang diterapkan. Karakteristik dari kacang tunggak yang dikoleksi ini adalah memiliki potensi hasil tinggi,  berumur genjah, dan tahan terhadap kekeringan.

Akses tanaman kacang tunggak ini ditemukan di beberapa lokasi di Kecamatan Pringgabaya dan Swela Kabupaten Lombok Timur.

2. Kacang Gude (Cajanus cajan)

Terdapat 2 aksesi kacang gude yang dikoleksi, yaitu yang memiliki warna kulit polong hijau mulus dan warna kulit polos hijau dengan warna bunga kuning; dan warna kulit polong semburat ungu dengan warna bunga merah. Tanaman beradaptasi sangat luas pada kondisi yang subur atau kondisi yang sangat ekstrim (kekeringan), tahan rebah dan polong tidak mudah pecah, akan tetapi peka terhadap hama khususnya perusak polong. Kacang gude termasuk tanaman kacang-kacangan yang memiliki kandungan gizi yang lengkap dan jika dibandingkan dengan jenis kacang lainnya, bahkan jika dibandingkan kedelai maka hanya kalah dari kandungan proteinnya yang sedikit lebih banyak pada tanaman kedelai.

3. Kacang Hijau (Vigna radiate)

Kacang hijau yang dikoleksi hanya varietas unggulan lokal Sampiong.  Kacang hijau ini memiliki ciri berbiji kecil dan mengkilat serta berproduksi tinggi, meskipun tanaman ini berasal dari Kabupaten Sumbawa tetapi berkembang juga di beberapa daerah di Pulau Lombok.

4. Jagung (Zea mays)

Jenis jagung yang dikoleksi adalah jagung local yang disebut pulut, jagung reket dan jagung brondong (dengan bunga merah dan hitam). Jenis jagung pulut ditemukan di Kecamatan Pringgabaya, jagung reket ditemukan di Desa Sajang, Sembalun dan Desa Sugihan Kecamatan Sambalia sedangkan jagung brondong warna bunga hitam diduga merupakan mutasi jagung brondong yang pernah didatangkan dari Maros.

5. Uwi-uwian (Dioscorea sp)

Jenis yang ditanam adalah uwi hitam, uwi putih dan gembili (2 aksesi), aksesi gembili secara fisik penampilannya sama dan hanya berbeda dari arah melilit batang tanaman ke tanaman panjatan. Tanaman ini banyak ditemukan pada kebun-kebun di Kecamatan Sikur dan Kecamatan Sambalia.

6. Pisang (Musa sp)

Terdapat 15 jenis pisang yang dikoleksi, yaitu pisang haji, pisang candi, pisang kayu, pisang ketip, pisang candi, pisang jepun, pisang emas, pisang tembaga, pisang jogang, pisang klutuk, pisang seribu, pisang tanpa jantung, pisang raja dan pisang susu burik.

Beberapa koleksi sumberdaya genetik tanaman yang dikoleksi di KP. Narmada, Kabupaten Lombok Barat antara lain :

1.  Durian (Durio zibethinus)

Terdapat 6 jenis durian yang dikoleksi , yaitu Durian tanpa duri (Gundul), Durian tanpa sekat (si gule), durian Sipayuk, durian Tong Medaya, Durian Sedapir, Durian Peseng ,

2.  Jeruk besar atau Pamelo (Citrus grandis)

Pamelo Kota Raja warna daging merah, pamelo kota raja warna daging buah putih, pamelo Taliwang Merah, Pamelo Taliwang Putih

3.  Mangga (Mangifera indica)

Mangga Darekanda dan Mangga Mataram :

4.  Duku Ruslan (Lansium domesticum)

5.  Kepundung

6.  Jambu air (Eugenia aquea)

Jenis-jenis yang dikoleksi adalah jambu air mini warna putih, jambu air mini warna pink, jambu air besar warna merah, putih dan hijau.

7.  Jambu  biji

Terdapat 2 jenis yaitu jambu biji merah dan jambu biji putih

8.  Kedondong merah (Spordius dulcis)

9.  Sawo plampang (Zapota sp)

10. Manggis Lingsar (Garcinia mangostana)

11. Rambutan Narmada (Nephelum lappaceum)

12. Padi lokal (Oryza sativa)

13. Ketan lokal (Oriza glutinesa)

14. Bawang merah lokal (Allium ascalonicum)

Terdapat 3 jenis bawang merah lokal yang dikoleksi yaitu, Ampenan dan Surabaya Lepak.

15. Uwi-uwian

Terdapat 3 jenis yaitu uwi ungu, uwi putih dan kentang gantung.

16. Sawo Manila (Manilkara zapota)

17. Nangka Prabu (Artocarpus heterophyllus)

18. Sawo Susu (Chrysophyllum cainito)

19. Cabe rawit lokal Beleke (Casicum annum)

20. Pohon pare

 
Beberapa Cara Mempersiapkan Media Tanam, Perbenihan Tanaman Buah Dan Sayur PDF  Array Cetak Array  E-mail
Oleh Nani Herawati dan Bq. Arie Sudarmayanti   
Selasa, 11 Maret 2014 07:06

Pendahuluan

Dalam usaha budidaya tanaman sayuran dan buah-buahan salah satu komponen penting dalam keberhasilanya adalah mempersiapkan media tanam yang sesuai bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Komposisi unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman harus tersedia dalam jumlah dan komposisi yang mencukupi.

Media tanam yang alami terdiri atas campuran tanah dan bahan-bahan organik yang memiliki kandungan hara yang tinggi. Selain itu ketersediaan air dalam media tanam  harus mencukupi atau tingkat kelembaban yang relatif lebih tinggi dari areal tanam biasa.

Tanaman buah dan sayur-sayuran sangat menyukai bahan organik berupa pupuk kompos yang berasal dari sisa bahan-bahan organik, kotoran ayam, kotoran kambing maupun kotoran sapi yang telah matang. Tanah yang dipegunakan untuk media tanam adalah tanah yang diambil pada kedalaman 5 cm dibawah permukaan. Tanah yang berlempung pasir adalah media tanam yang baik karena tanah tersebut memiliki karakteristik yang baik lempung berfungsi sebagai perekat media tanam, sedangkan pasir bermanfaat untuk memberikan porositas yang baik bagi tanaman.

Adapun caranya sebagai berikut :

  • Campurkan bagian tanah dan pupuk organik atau pupuk kompos dengan perbandingan 2 bagian tanah dan 1 bagian pupuk organik atau kompos.
  • Setelah di campur baru kemudian dimasukkan kedalam polybag, atau bahan -bahan yang sudah tidak di pakai di rumah seperti kantung plastik, botol air mineral yang di belah, sabut kelapa, bekas plastik pembungkus mie atau sisa bahan-bahan yang sudah tidak dipergunakan lagi.

Mempersiapkan media tanam faktor pentingnya adalah pupuk kompos karena keberhasilan penanaman buah dan sayur-syuran terletak pada penyediaan bahan organik dan pupuk kompos yang sudah matang.

Adapun cara mempersiapkan media kompos adalah sebagia berikut :

  • Untuk Kompos dari sisa sampah dapur : sisa potongan sayur yang berdaun hijau, kulit kacang, tongkol jagung, kulit telur. Untuk bak penampungan bisa menggunakan karung goni, atau tanah yang di buat lubang.
  • Bahan yang telah disiapkan dimasukkan kedalam bak penampungan atau wadah selapis demi selapis kemudian dimasukkan nasi yang telah berjamur untuk mempercepat proses pelapukkan kemudian wadah di tutup.
  • Lebih kurang satu bulan kompos dapat dimanfaatkan sebagai media tanam untuk mempercepat proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman.

Beberapa jenis tanaman sayuran dan buah ada yang harus dilakukan penyemaian terlebih dahulu dan ada yang langsung dilakukan penanaman langsung di polybag atau dilahan tanpa harus melewati tahap penyemaian. Ada banyak tanaman hortikultura yang dibudidayakan dengan melalui tahap penyemaian terlebih dahulu. Tujuannya adalah untuk mengurangi kematian akibat tanaman yang belum siap dengan kondisi lapangan, untuk melindungi tanaman dari cuaca atau gangguan tanaman lainya.

Tanaman yang memerlukan tahap penyemaian biasanya mempunyai siklus panen menengah hingga panjang dan memiliki benih yang kecil-kecil. Untuk tanaman dengan siklus panen cepat seperti bayam dan kangkung tahap penyemaian menjadi kurang ekonomis. Sedangkan untuk tanaman yang memiliki biji besar sebaiknya di tanam dengan tugal langsung kedalam tanah atau di lahan. Untuk tanaman yang memiliki biji relatif lebih besar relatif tahan terhadap kondisi lingkungan karena di dalam benihnya telah di kandung zat yang mengawali dan menopang awal pertumbuhan. Beberapa jenis tanaman yang biasa dilakukan penyemaian terlebih dahulu adalah tomat, cabe, sawi, selada, bayam, dsbnya.

Penyemaian memerlukan tempat dan perlakuan khusus yang berbeda dengan kondisi lapangan, untuk itu diperlukan tempat yang terpisah dengan tempat pertanaman. Bisa menggunakan menggunakan tray, cetakan, polybag, atau bedengan biasa. Untuk membuat media persemaian berbentuk tray/polybag/cetakan dilakukan dengan beberapa tahap yaitu :

  • Campurkan tanah dengan pupuk organik dengan komposisi 2:1
  • Untuk persemaian dengan menggunakan tray masukkan campuran media tanam kedalam tray. Sebelumnya tanahnya di ayak agar komposisi tanah yang dimasukkan ke dalam tray dapat teratur dan rapi.
  • Untuk persemaian dengan menggunakan polybag campurkan media tanam yang telah di buat dengan arang sekam atau pupuk kandang.
  • Untuk persemaian dengan menggunakan bedengan dilakukan dengan jalan mencampur tanah dengan pupuk organik atau kompos dengan komposisi 2:1, kemudian dibuat bedengan dan diletakan campuran tadi di atas bedengan dengan ketebalan 5-7 cm. Ini adalah ketebalan bedengan yang optimal. Siram bedengan dengan air secukupnya dan tebarkan benih di atas bedengan tersebut. Dibuat tiang penyangga atau bambu yang dilengkungkan kemudian bedengan ditutup dengan paranet hal ini berfungsi agar bedengan tidak terkena air hujan langsung, tanaman yang cocok ditanam di bedengan adalah tanaman dengan siklus pendek seperti sawi, caisim, pakhchoi.

Untuk tanaman buah seperti buah pepaya dan pisang  dapat dilakukan dengan jalan membuat lubang dengan kedalaman 1 meter dan sekitar lubang diberikan pupuk kandang yang telah matang untuk membantu proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman sehingga proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman dapat berjalan dengan baik.

Membuat Perbenihan Tanaman Buah Dan Sayur

Bahan yang dibutuhkan:

  • Buah tomat tua atau masak secara fisiologis di pohon, berukuran besar dan normal, tidak bebas dari hama ataupun penyakit
  • Air

Alat yang dibutuhkan

  • Pisau
  • Plastik bening (plastik gula ukuran 1 kg)
  • Saringan
  • Kertas HVS
  • Nampan

Cara membuat benih tomat

  • Pilih benih tomat sesuai kriteria yang telah ditentukan

  • Calon benih tomat yang telah di seleksi

  • Potong buah tomat dengan cara melintang

  • Peras buah tomat di atas kantung plastik bening, peras buah tomat seperti memeras jeruk nipis

  • Hasil perasan dicampur dengan air

  • Setelah dicampur dengan air, kantung plastik diikat dan didiamkan selama 3 hari 3 malam dengan tujuan agar biji terpisah dengan lendir yang menyelimuti biji tomat

  • Bilas berkali-kali biji yang telah direndam sampai bersih
  • Kemudian dilakukan penyaringan
  • Biji yang telah disaring, dilepas di atas nampan yang dilapisi kertas HVS
  • Biji telah siap untuk dijemur dan dikeringkan

Perbenihan Cabai

Bahan yang dibutuhkan:

  • Buah cabai yang tua di pohon atau buah cabai tua, buah besar dan normal, tidak terkena hama ataupun penyakit
  • Air

Alat yang dibutuhkan:

  • Pisau
  • Kantung plastik bening
  • Saringan
  • Kertas HVS
  • Nampan

Cara membuat benih Cabai

  • Pilih buah cabai sesuai kriteria yang telah ditentukan
  • Potong kedua ujung buah cabai

  • Sayat bagian tengah dan keluarkan biji

  • Biji di cuci di dalam baskom atau di air yang mengalir

  • Tiriskan air dari kantung plastik dengan menggunakan saringan sehingga biji cabai bisa tersaring

  • Tuangkan biji cabai yang ada di saringan ke nampan yang dilapisi kertas HVS

  • Lakukan penjemuran terhadap biji cabai di bawah sinar matahari pagi (antara jam 07.00-11.00), penjemuran dilakukan sampai benih benar-benar kering.

Sumber :

alamtani.com/Media-Persemaian-hortikultura

 
Penggunaan Tenaga Kerja Off Farm dalam Usahatani PDF  Array Cetak Array  E-mail
Oleh Farida Sukmawati M   
Jumat, 05 Juli 2013 06:47

Penggunaan tenaga kerja oleh keluarga petani di negara berkembang pada umumnya, tidak hanya bekerja untuk on farm, tetapi juga off farm dan non farm, terutama pada usahatani skala kecil (berdasarkan ukuran luas lahan atau jumlah ternak yang diusahakan). Penggunaan tenaga kerja berasal dari anggota keluarga petani  menjadi topik penting untuk dipahami karena mereka adalah sumber pendapatan bagi rumahtangga pertanian. Pertimbangan terhadap keputusan keluarga masih sering mengabaikan keterlibatan anggota keluarga dalam pasar tenaga kerja off farm.

Bekerja  di sektor  off farm bagi rumah tangga petani merupakan upaya mengatasi resiko kegagalan panen (on farm) dan berpeluang memperoleh tambahan pendapatan.  Faktor  variasi demografi  pada pasar tenaga kerja off farm, tergantung pada : umur, ukuran rumahtangga, pengalaman dan jumlah anak dalam keluarga.  Secara individu ketersediaan modal sumberdaya manusia dan upah marginal bekerja di off farm merupakan refleksi  dari pendidikan formal, umur dan pengalaman pada pekerjaan tertentu. Hal ini terkait dengan keputusan untuk bekerja di off farm, yang memperhitungkan alokasi waktu bekerja sehingga mendapatkan kepuasan, yang setara dengan tambahan penerimaan yang diperoleh keluarga. Kesempatan seorang petani untuk bekerja off farm juga ditentukan oleh kemampuan dan keahliannya.

Jika pendapatan yang diperoleh dari off farm lebih besar maka akan  menyebabkan meningkatnya ketergantungan pada pekerjaan tersebut.  Pendapatan off farm yang lebih tinggi akan mengurangi waktu yang dialokasikan untuk mengelola pertaniannya sendiri, sehingga akan menurunkan  produktivitas usahatani on farm (Rios et al., 2008). Kondisi ini juga dapat mempengaruhi tingkat efisiensi produksi pertanian; karena inefisien tidak hanya disebabkan oleh variasi input yang digunakan dalam proses produksi.  Penggunaan input tenaga kerja dan alokasi waktu bekerja di on farm yang tidak tepat bisa menurunkan produksi dan mempengaruhi tingkat keuntungan yang diperoleh.

Ukuran rumah tangga dapat mempengaruhi partisipasi dalam  pasar tenaga kerja dan tenaga kerja yang digunakan dalam usahatani mereka sendiri. Penawaran tenaga kerja sebagai buruh tani menjadi lebih tinggi.  Rumah tangga dengan tenaga kerja yang cenderung lebih tertarik bekerja di luar pertanian,  memiliki  produktivitas  rendah dan penghasilan rendah.  Persaingan dalam alokasi waktu untuk kegiatan pertanian yang disumbangkan oleh tenaga kerja rumahtangga, bisa mempengaruhi produktivitas usahatani.

Rumahtangga pertanian diasumsikan memiliki perbedaan pada spesifikasi tenaga kerja.   Sering terjadi diskriminasi terhadap perlakuan tenaga kerja wanita yang hanya bekerja pada on farm pada pertanian subsisten;  sedangkan pekerja pria mempunyai peluang yang lebih besar pada jenis pekerjaan yang lebih beragam, bisa bekerja di on farm sebagai pekerja tetap dan di off farm sebagai tenaga kerja temporer.  Alokasi penggunaan waktu, setiap anggota rumahtangga bisa memiliki peluang yang sama untuk memperoleh upah kerja, tergantung bagaimana mereka melakukan pekerjaannya  (Caillavet, 1994).

Sektor pertanian di negara manapun masih tetap memegang peranan  penting, karena sektor ini menghasilkan sumber pangan yang diperlukan oleh masyarakat, dengan berbagai struktur budaya dan tingkat perekonomiannya.  Kondisi saat ini di mana pertumbuhan dan perkembangan industri telah memberikan harapan perekonomian yang lebih menjanjikan dari sisi pendapatan; memiliki daya tarik bagi tenaga kerja.  Walaupun demikian tidak semua tenaga kerja dapat beralih ke sektor industri atau pekerjaan lain di luar pertanian. Dampak negatif di sektor pertanian bisa saja terjadi, akibat  terjadinya peningkatan  persaingan dalam penggunaan tenaga kerja antara on farm dan off farm, yang berasal dari rumahtangga pertanian.

Di satu sisi kita ketahui bahwa harga-harga produk pertanian tidak dapat dengan mudah dinaikkan terutama komoditi pangan pokok, sedangkan   rumahtangga tani membutuhkan income keluarga yang layak.  Ditambah lagi usaha pertanian yang kurang efisien akan menurunkan tingkat keuntungan;  ini akan semakin memperbesar peluang tenaga kerja berasal dari rumahtangga pertanian akan beralih ke pekerjaan off farm atau non farm.

PUSTAKA

Caillavet, F., Herve Guyomard, Robert Lifran. 1994.  Agricultural Household Modelling and Family Economics.  Elsevier.  Amsterdam-Lausanne-New York-Oxford-Shannon-Tokyo.

Goodwin B. K., dan Mashra, A.K. 2004.  Farming Efficiency and Determinants of Multiple ob Holding by Farm Oprators.  American Journal Agricultural Economic. Pp 722-729.

Rios, A.N.,  William A. Masters and Gerald E. Shively 2008. Linkages between Market Participation and Productivity: Results from a Multi-Country Farm Household Sample Department of Agricultural Economics Purdue University

Uaiene dan Channing, 2008.  Farm Household Efficiency in Mozambique. National Directorate of Study and Policy Analysis. Ministry of Planning and Development Republic of Mozambique

 
Memahami Pentingnya Teknologi dan Proses Adopsinya oleh Petani PDF  Array Cetak Array  E-mail
Oleh Farida Sukmawati M dan Sasongko WR   
Senin, 03 Juni 2013 10:51

Pada saat kita mendengar atau membaca kata “teknologi” maka dalam benak terbayang “produk”nya; sesuatu yang baru dengan keunggulan tertentu.  Kita  ambil contoh  “teknologi perbenihan”,  maka yang dibayangkan bisa berupa “benih baru” yang berproduksi tinggi tahan  penyakit dan sebagainya.  Namun sesungguhnya teknologi itu sendiri merupakan suatu cara atau proses yang dilakukan dengan prinsip-prinsip tertentu dan terstruktur yang selalu ada perbaikan dan penyempurnaan agar memperoleh hasil yang lebih baik, melalui berbagai percobaan dan kajian. Teknologi dapat didefinisikan dengan berbagai pendekatan dan sudut pandang, namun pada dasarnya teknologi diciptakan untuk memperbaiki atau menyempurnakan hasil yang telah dicapai sebelumnya.  Sehingga jelas tujuan dan manfaat diciptakannya suatu teknologi.

Penggunaan teknologi sangat luas di berbagai bidang dan sektor dalam kehidupan, seperti pertanian, industri, dan pendidikan. Ketika teknologi diaplikasikan maka yang diharapkan adalah hasil yang meningkat atau lebih baik dari sebelumnya; bagaimana jika yang terjadi justru sebaliknya? Tentu teknologi akan ditinggalkan. Kemampuan suatu teknologi memberikan hasil sesuai harapan, didukung oleh berbagai faktor di antaranya : manajemen, sumber daya, lingkungan  dan  finansialnya.  Faktor-faktor tersebut saling terkait dan tidak ada yang bisa diabaikan.  Itulah sebabnya dalam suatu pengkajian teknologi yang diukur adalah kemampuan adaptasinya, dengan mempelajari berbagai hal dan tidak hanya pada peningkatan produktivitasnya.

Kembali kepada para petani sebagai pengguna teknologi, dengan  berbagai variasi kondisi lingkungan dan  faktor-faktor produksi yang dimiliki; tidak menutup peluang bahwa teknologi yang sama akan memberikan hasil yang berbeda.  Teknologi akan diaplikasi pada usahatani jika mampu memberikan profit bagi petani.  Profit di sini bukan semata-mata dihasilkan akibat  adanya peningkatan produktivitas, sehingga produktivitas tidak dapat dijadikan ukuran suatu teknologi akan diadopsi oleh petani.  Teknologi  dirasakan  layak bagi petani jika dapat meningkatkan  efisiensi dan tentu saja didukung  peningkatan produktivitas.  Ini disebabkan karena teknologi tidak dapat mengantisipasi  perubahan harga baik harga output maupun harga input.

Pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) merupakan upaya untuk memperkuat daya dukung IPTEK dalam meningkatkan daya saing di dalam pergaulan Internasional. Inovasi teknologi memang telah terbukti memberikan sumbangan yang cukup besar terhadap kemajuan pertanian dan ini sudah terbukti, misalkan teknologi  pemupukan, sistem pertanaman tumpang sari hingga pengembangan varietas unggul tahan hama dan penyakit, merupakan bentuk teknologi yang sudah diadopsi oleh petani.  Kita  bisa belajar dari pengalaman masa lalu, bagaimana suatu tranfer teknologi dilakukan, bimbingan dan pendampingan yang dilakukan dalam rentang waktu yang panjang dan bahkan mengarah pada pemaksaan.  Tapi disadari ketika itu tingkat pendidikan masyarakat yang rendah dan keterbatasan informasi sehingga cara itu dianggap lebih efektif. Kondisi sekarang tentu berbeda, dengan berbagai kemudahan informasi,  tersedianya berbagai teknologi yang bisa dipilih sebagai alternatif yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan petani.

Teknologi merupakan bentuk investasi yang ditanamkan dalam suatu usaha agar bisa memberikan hasil yang lebih baik.  Dalam  penerapannya ada faktor-faktor yang bisa mendorong suatu teknologi diadopsi yang kemudian  diaplikasikan dalam usahataninya. Memahami faktor-faktor yang menentukan investasi berupa teknologi merupakan implikasi yang bijak dari seorang petani.  Peran pemerintah dalam mendampingi teknologi tidak hanya sebatas memperkenalkan teknologi, atau meyakinkan dalam bentuk demplot untuk membuktikan keunggulan teknologi.   Pemahaman  yang mendalam diperlukan terhadap kondisi petani yang akan menggunakan terknologi. Studi kelayakan tidak hanya sebatas pada ukuran keberhasilan petani secara teknis yang mampu menerapkan tetapi penting artinya teknologi juga layak secara ekonomi.

Kelayakan ekonomi tidak hanya sebatas pada nilai positif yang ditunjukkan dari rasio penerimaan dan biaya yang biasa disebut rasio B/C atau rasio R/C.  Faktor finansial yang dimiliki petani juga mendukung suatu teknologi mampu diaplikasikan oleh petani.  Ini terkait dengan ragam jenis usaha yang dilakukan petani dalam rumahtangganya, seperti jenis komoditas pada on farm, off farm atau non farm (buruh bangunan, ojek, dll).  Keterbatasan pemilikan modal yang dimiliki membuat petani harus mendistribusikan uangnya untuk semua sumber pendapatannya. Pertimbangan untuk mengaplikasikan teknologi jika modal yang dimiliki memungkinkan untuk itu.

Petani bisa menolak untuk mengadopsi teknologi berdasarkan pada pertimbangan pada persoalan lain yaitu akan ketidak pastian dari hasil yang bisa diperoleh jika mereka mengaplikasikan teknologi tersebut dalam usahataninya.  Bisa berupa penundaan sampai mereka benar-benar yakin bahwa teknologi baru bisa memberikan manfaat dan keuntungan bagi mereka.  Ini dapat dilihat dari kecepatan adospi dari suatu teknologi baru. Diperlukan studi yang mampu menjelaskan mengapa petani memilih untuk menunda mengadopsi teknologi walaupun mereka tahu keunggulannya.

Hendaknya diperhatikan bagi institusi yang terkait dalam pembangunan pertanian kita, bahwa ada hal-hal yang selama ini kurang diperhatikan dalam melakukan transfer teknologi atau memperkenalkan suatu program.  Walaupun secara ilmiah telah teruji keunggulannya sehingga diharapkan dapat dipergunakan oleh masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraannya; namun masih dibutuhkan pendampingan, kontrol dan evaluasi.  Dalam hal ini peran penyuluhan masih sangat diperlukan tentu dengan menyesuaikan kondisi sekarang.  Kemajuan teknologi komunikasi saat ini sudah sangat memberikan kemudahan dalam penyampaian informasi, sedangkan yang perlu disesuaikan adalah sistem dan metode yang digunakan. Evaluasi merupakan salah satu bagian penting untuk mengetahui tingkat adopsi dan perbaikan-perbaikan yang mungkin harus dilakukan agar teknologi benar-benar aplikatif  spesifika lokasi.  Perbaikan  dan penyempurnaan dilakukan agar  tidak terlalu besar biaya yang harus dikeluarkan dengan sia-sia, jika suatu teknologi tidak diadopsi.

 
Prospek Pengembangan Itik Pedaging di NTB PDF  Array Cetak Array  E-mail
Oleh Farida Sukmawati M dan Sasongko WR   
Senin, 15 April 2013 10:11

Itik merupakan unggas yang sudah cukup dikenal masyarakat sebagai penghasil telur, bahkan dagingnya juga digemari oleh masyarakat luas yang bisa dinikmati di warung  “warteg” pinggir jalan sampai restoran.   Suplai daging itik relatif kurang dibandingkan dengan suplai telur itik.  Daging itik di pasar berasal dari pemotongan itik jantan yang digemukan atau itik betina yang sudah afkir karena produksi telurnya sudah menurun. Itik afkir jelas sudah berumur relatif tua. Ternak yang berumur tua, tekstur dagingnya lebih keras, namun demikian belum banyak peternak khusus itik pedaging seperti pada peternakan ayam pedaging (Broiler).  Itik pejantan yang diharapkan menjadi penghasil daging juga belum bisa diandalkan karena persentase jantan dari setiap penetasan hanya memiliki peluang 50 persen. Itik yang dikategorikan sebagai petelur memiliki karakteristik sesuai tipenya, bentuk badannya relatif lebih ramping dengan volume daging yang rendah.

Melalui perkembangan teknologi persilangan, telah dihasilkan beberapa alternatif ternak itik pedaging, itik dua tipe (petelur dan pedaging) untuk memenuhi kebutuhan daging dan telur itik.  Beberapa jenis itik persilangan yang sudah dihasilkan oleh Balai Penelitian Ternak Ciawi seperti itik Serati dan Itik MA (Mojosari-Alabio).  Itik lokal seperti Mojosari dan Alabio yang disilangkan menghasilkan itik MA yang dikembangkan di Balai Penelitian Ternak Ciawi berpotensi besar sebagai penghasil daging khususnya untuk itik jantan, dengan rataan bobot badan umur delapan minggu dapat mencapai 1.3 kg (Prasetyo, et al, 2005 disitasi Matitaputy, 2012).

Sayangnya masyarakat peternak terutama di luar pulau Jawa masih mengalami kesulitan untuk memperoleh bibit itik MA, karena memang belum diproduksi secara massal.  Mungkin juga masih perlu dilakukan pengamatan-pengamatan terhadap daya adaptasinya.  Sangat disayangkan apabila hasil tersebut tidak dapat dikembangkan lebih lanjut untuk mengatasi persoalan produksi ternak itik yang berkualitas baik dan produksi tinggi.

Sebelumnya  daerah NTB cukup dikenal sebagai daerah produsen telur asin (itik),  dan menjadi salah satu bentuk oleh-oleh bagi wisatawan yang berkunjung ke Lombok, bahkan diperdagangkan  ke luar wilayah NTB.  Ada kriteria tertentu pada telur itik yang digemari yaitu cangkang (kerabang telur) berwarna kehijauan atau kebiruan.  Itik yang memiliki karakteristik telur seperti itu adalah itik Mojosari dan Itik Bali.  Namun kedua jenis itik ini kurang baik untuk menjadi pedaging karena umumnya unggas petelur ini memiliki bentuk tubuh yang ramping, tidak gemuk sehingga kualitas dagingnya relatif rendah.

 

Gambar 1. Perkembangan populasi ternak itik di NTB.

 

Kebutuhan daging itik di NTB yang terus meningkat, mendorong laju pertumbuhan populasi ternak itik, (Gambar 1.).  Populasi  ternak itik tahun 2010 mencapai 568.122 ekor (BPS, 2011).  Harga  itik dewasa rata-rata Rp 60.000/ekor (Disnak Prov. NTB, 2013). Jika bobot umur 8-10 minggu sebesar 1,3 kg dengan persentase karkas sekitar 50%, maka akan diperoleh karkas seberat 650 gr.

Penerapan teknologi diharapkan dapat memperbaiki penampilan itik lokal dalam hal produksi daging. Telah banyak  dilakukan perbaikan manajemen pemeliharaan seperti pemberian pakan seimbang sesuai kebutuhan ternak,  namun perbaikan genetik melalui seleksi dan persilangan masih jarang dilakukan terhadap itik-itik lokal, karena membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang cukup mahal.  Menurut Noor (2008) disitasi oleh Matitaputy (2012), bahwa perbaikan genetik bisa relatif lebih efektif akan memberi dampak yang lebih permanen dibandingkan dengan perbaikan manajemen atau perbaikan pakan.

Itik Pedaging Unggulan Lokal, Itik PMp merupakan  itik tipe pedaging baru yang dikembangkan oleh Balai Penelitian Ternak di Ciawi-Bogor. Kombinasi genetis dari itik ini yaitu itik Peking dan itik Mojosari putih, diharapkan dapat memenuhi kebutuhan konsumen penggemar daging itik. Harapan dari persilangan ini adalah untuk menghasilkan karkas ukuran sedang ataupun besar,  dengan kualitas daging itik yang tinggi.  Bangsa  itik ini  diharapkan dapat mengurangi penggunaan itik tipe petelur untuk memenuhi kebutuhan daging itik yang dikhawatirkan akan mengganggu keseimbangan genetis itik petelur akibat terjadinya pengurasan (pemotongan betina umur produktif, betina dan pejantan kualitas unggul).  Itik PMp memiliki warna bulu putih, warna kulit karkas bersih dan cerah, bobot badan itik MPp umur 10 minggu sekitar 2 -2,5 kg/ekor (Balitnak, Ciawi).

Ini merupakan potensi dan peluang yang menjanjikan bagi peternak itik untuk dapat mengembangkannya lebih lanjut, terutama untuk memenuhi kebutuhan bibit di daerah seperti yang sudah berkembang pada industri ayam. Perkembangan ayam pedaging yang begitu pesat karena ketersediaan industri perbibitan telah mampu memenuhi kebutuhan DOC final stock dan pakan berkualitas. Peningkatan permintaan akan  daging itik di pasaran, memerlukan pemenuhan melalui kesanggupan peternak untuk memproduksi ternak itik.  Ketidakmampuan memenuhi permintaan akan membuka peluang impor, yang akan merugikan peternak dan masyarakat semua.

 

Pustaka

BPS, 2011.  NTB Dalam Angka.  Badan Pusat Statistika Provonsi Nusa Tenggara Barat.

Disnak Prov. NTB, 2013.  Data Harga Komoditi Peternakan di NTB.

Prasetyo, H. 2012. Teknologi Pemuliaan untuk Peningkatan Produksi Itik. Poultry Indonesia.

Matitaputy, R. 2012. Peningkatan Performa dan Produksi Karkas Itik melalui Persilangan Itik Alabio dengan Cihateup.  Makalah Seminar Disertasi. IPB.

LAST_UPDATED2
 
JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL
Joomla Templates by JoomlaVision.com