Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Highlight

ktt
phslb
ePetani
Keunggulan Sistem Tanam Padi Menggunakan Jajar Legowo PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Admin   
Selasa, 18 September 2012 09:40

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) NTB secara berkala melakukan kegiatan kunjungan lapang dalam rangka menemu kenali permasalahan sekaligus memberikan penyuluhan dan pembinaan kepada petani, terutama binaan BPTP, untuk melakukan kegiatan pertanian dengan teknologi baru dalam rangka meningkatkan produktifitas produk pertanian.

Pada kunjungan lapang tanggal 13-14 September 2012, Tim BPTP mengunjungi 5 kecamatan, salah satunya BPP Labuapi. Di kecamatan ini, Tim BPTP yang diketuai oleh Ir. Sudarto (Tim Feati) memotivasi dan memfasilitasi petani padi dalam melakukan kegiatan penanaman padi dengan menggunakan metode tandur jajar dengan menggunakan alat “tali sipat” dan “caplak” (suatu teknologi pertanian untuk mengatur jarak tanam padi). Seperti telah diketahui, masih banyak petani di Provinsi Nusa Tenggara Barat yang mempunyai kebiasaan melakukan tandur joget yaitu metode penanaman padi secara konvensional.

Teknologi tali sipat dan caplak dirancang untuk mempermudah dan mempercepat pembuatan pola garis tanam padi pada lahan sawah, sehingga dapat menghemat tenaga kerja dan menghemat benih. Penerapan teknologi tersebut dapat memudahkan dan mempercepat petani untuk mengadopsi system tanam legowo  2 : 1 (40 x 20 x 10 cm) yang memiliki populasi tanam optimal sehingga berpotensi meningkatkan produksi padi. Sesuai informasi dari Balai Besar Penelitian Padi, Sistem tanam legowo merupakan cara tanam padi sawah  dengan  pola  beberapa  barisan  tanaman

yang kemudian diselingi satu barisan kosong. Tanaman yang seharusnya ditanam pada barisan yang kosong dipindahkan sebagai tanaman sisipan di dalam barisan. Pada awalnya tanam jajar legowo umum diterapkan untuk daerah yang banyak serangan hama dan penyakit. Pada baris kosong, di antara unit legowo, dapat dibuat parit dangkal. Parit dapat berfungsi untuk mengumpulkan keong mas, menekan tingkat keracunan besi pada tanaman padi atau untuk pemeliharaan ikan kecil (muda). Namun kemudian, pola tanam ini berkembang untuk memberikan hasil yang lebih tinggi akibat dari peningkatan populasi dan optimalisasi ruang tumbuh bagi tanaman. Sistem tanam jajar legowo pada arah barisan tanaman terluar memberikan ruang tumbuh yang lebih longgar sekaligus populasi yang lebih tinggi. Dengan sistem tanam ini, mampu memberikan sirkulasi udara dan pemanfaatan sinar matahari lebih optimal untuk pertanaman. Selain itu, upaya penanggulangan gulma dan pemupukan dapat dilakukan dengan lebih mudah.

Agak sedikit sulit menyakinkan petani untuk menggunakan pola tanam yang disarankan oleh BPTP yaitu 40 x 20 x 10 cm. Petani bersikeras menggunakan pola 20 x 20cm,  karena menurut mereka hasil panen mereka dengan menggunakan pola ini meningkat cukup signifikan. Tim BPTP menyarankan petani untuk melakukan perbandingan pemakaian  ke dua pola tersebut, namun dengan ketentuan bahwa umur bibit dan perlakuan yang diberikan juga harus sama. Melalui kegiatan perbandingan penanaman tersebut maka petani akan dapat menemu kenali pola mana yang menguntungkan bagi petani.

Hasil penelitian dan pengkajian di tempat lain terhadap metode tandur jajar dan tandur joget adalah seperti tersebut pada tabel dibawah ini :

No.

Sistem

Benih yang diperlukan

Umur rata-rata bibit

Jumlah bibit perumpun

Produksi

1

Tandur Joget

40 kg/hektar

30 hari

5 bibit

4-5 ton

2

Tandur jajar legowo

20 kg/hektar

15 hari

2 bibit

7-9 ton

Dalam kunjungan lapang ini, tim juga mengingatkan petani untuk melakukan kegiatan pengendalian hama keong mas dengan cara manual, artinya mencari dan membuang telur keong yang mulai menempel di malai padi secara manual. Cara manual ini dilakukan karena kecamatan Labuapi bukan daerah endemik keong mas, artinya hama keong mas belum terlalu mengganggu, namun kalau keong mas tersebut tidak dibuang lama-lama akan berkembang biak dan tidak mustahil dalam jangka waktu tertentu akan menjadi endemik. Jika hama tersebut endemik maka penanganannya harus menggunakan pestisida. Artinya akan lebih memakan biaya dan merusak lingkungan.

Pada prinsipnya, kegiatan kunjungan lapang dalam memfasilitasi petani sebaiknya terus dilakukan secara berkala demi peningkatan pemahaman petani dalam menerapkan teknologi anjuran yang pada akhirnya dapat meningkatkan produksi pertanian.  (Sumber : Yukoningsih Suciandari SE).

 
Joomla Templates by JoomlaVision.com