Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Highlight

Tekno Inovatif
banner1
ePetani
banner2
katam
baner4
phslb
ktt

Kalender Kegiatan

NOEVENTS

Forum Litbang/ Katalog Online

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini5942
mod_vvisit_counterKemarin4274
mod_vvisit_counterMinggu Ini16324
mod_vvisit_counterMinggu lalu11616
mod_vvisit_counterBulan Ini56437
mod_vvisit_counterBulan lalu56289
mod_vvisit_counterTotal Kunjungan6588312
We have: 110 guests online
Today: 25 Apr, 2014

Download

Temu Lapang Tumpangsari Cabe di Lombok Barat PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Muji Rahayu   
Senin, 13 Agustus 2012 00:00

Sektor pertanian merupakan sektor yang paling banyak merasakan dampak langsung dari perubahan iklim,  diantaranya  adalah  meningkatnya populasi hama penyakit, kekeringan, hujan yang terus-menerus dan perubahan lainnya,  yang kalau tidak bisa diantisipasi berujung pada kegagalan produksi pertanian. Oleh karenanya didalam merencanakan usahatani, teknologi yang dikembangkan hendaknya  memiliki ciri ketahanan terhadap iklim itu sendiri.  Dalam kaitan tersebut untuk pengembangan komoditas cabe didesain agar teknologi yang diterapkan memiliki ketahan terhadap perubahan iklim. Salah satu teknologi untuk mengantisipasi adanya serangan hama penyakit adalah melalui kultur teknis “tumpangsari”.

BTP NTB mencoba mengembangkan sistem tumpangsari melalui tiga model yaitu: cabe+bawang merah, cabe+kubis dan cabe+tomat.  Sistem tumpangsari tersebut khususnya ditujukan untuk mengendalikan serangan hama penyakit, agar serangan yang terjadi masih dalam taraf ambang ekonomi yang masih dapat ditolerir (tidak merugikan) usaha petani, sehingga meskipun dalam situasi iklim yang tidak menentu usahatani cabe tetap menguntungkan.  Sistem tumpangsari yang sudah dikenal sejak jaman nenek moyang kita, dalam kajian ini mendapatkan beberapa  sentuhan inovasi baru diantaranya adalah border tanaman jagung yang ditujukan sebagai perangkap hama Thrip, penanaman selasih yang ditujukan sebagai rephelent hama lalat buah, pembuatan sumur dangkal sebagai sumber penyemprotan air bersih pada pertanaman setelah hujan turun (khususnya hujan turun di malam hari), varietas unggul baru dan posisi bentuk ajir.

Untuk mendesiminasikan kegiatan pengkajian sistem tumpangsari telah dilakukan temu lapang “Sistem Tumpangsari Cabe” pada, 9 Agustus 2012 di Dusun Mendagi, Desa Beleke, Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat yang dibuka oleh Pjs Kepala BPTP NTB Ir. Sofyan Souri  dengan menghadirkan 10 penyuluh, 55 petani cabe se Kabupaten Lombok Barat, 1 staf dari Badan Penyuluhan Pertanian Kabupaten Lombok Barat, Koordinator penyuluh Kecamatan Gerung, 5 orang supplier sayuran ke Indofood, satu orang pengusaha saprodi dan para peneliti dan penyuluh BPTP NTB.   Acara temu lapang juga diliput TVRI NTB sebagai bahan siaran “Desa Membangun”  Dari hasil  observasi lapang tentang keragaan tanaman dalam sistem tumpangsari, beberapa petani dan penyuluh  merespon baik. Dalam acara diskusi antara lain ditanyakan varietas Phipipines dan teknologi yang adaptif untuk bawang merah, pengendalian hama Crossy pada kubis, pengendalian layu pada cabe dan tomat. Beberapa strategi antisipasi adanya over produksi dan turunnya harga jual cabe yang diterima petanipun juga tidak luput dari bahan diskusi. Usulan solusinya  antara lain dengan memberdayakan assosiasi petani cabe, lembaga informasi pemasaran cabe, dan sebaginya. Dengan bergeraknya waktu acara diskusi berlangsung semakin menghangat hingga fenomena pergeseran fungsi lahan pertanian subur yang beralih fungsi menjadi fasilitas umum, perumahan, perkantoran dan perniagaan di Kabupaten Lombok Barat pun tidak luput dari sorotan para petani yang mengkhawatirkan merebaknya fenomena tersebut.   (Sumber : Muji Rahayu)

 
Joomla Templates by JoomlaVision.com