Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Highlight

phslb
ktt
Tekno Inovatif
ePetani

Kalender Kegiatan

Ancaman Ledakan Hama Wereng Coklat Menyusul Penyimpangan Iklim PDF  Array Cetak Array  E-mail
Oleh Lalu Wirajaswadi   
Sabtu, 06 November 2010 08:52

Latar Belakang

Penyimpangan iklim merupakan fenomena alam yang sulit diprediksi kemunculannya dan memiliki dampak multidimensi, diantaranya berkembangnya populasi hama tertentu tanaman padi, karena terciptanya lingkungan  yang sangat kondusif untuk proses perkembang-biakan. Seperti di wilayah Indonesia lainnya, Tahun 2010 di Nusa Tenggara Barat (NTB) juga mengalami penyimpangan iklim yang ditandai dengan terjadinya kemarau basah sehingga perbedaan anatara musim hujan dan musim kemarau menjadi tidak jelas. Penyimpangan tersebut menciptakan suasana yang didominasi mendung, suhu meningkat dengan tingkat kelembaban udara tinggi yang sangat sesuai untuk berkembangnya berbagai spesies serangga.

Wereng coklat merupakan salah satu jenis hama tanaman padi yang sangat berbahaya dan sering menunjukkan ledakan (out break) atau serangan dengan intensitas berat dalam skala luas bersamaan dengan terjadinya penyimpangan iklim. Sejarah mencatat keganasan serangan wereng coklat terjadi pada periode 1974 sampi dengan 1979, memusnahkan pertanaman padi seluas 300.000 ha hingga 750.000 ha di Jawa, Sulawesi dan Nusa Tenggara yang berpengaruh nyata terhadap persediaan pangan.  Penciptaan varietas unggul tahan wereng (VUTW) telah berhasil menekan luas serangan secara nyata, namun kecendrungan petani kembali menanam non VUTW secara meluas mulai menimbulkan serangan. Data Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tanaman (BBPOPT) Jatisari menunjukkan luas serangan wereng batang coklat (WBC) sampai  Agustus 2010 mencapai 105.372 ha dengan luas tanaman puso 4.161 ha, merupakan serangan terluas dalam sepuluh tahun terakhir. Apabila hujan musim kemarau terus berlanjut maka pada MH 2010/2011 diperkirakan  serangan akan bertambah meluas.

Di NTB kemunculan kembali wereng coklat menunjukkan tanda-tanda, sejak tahun 2006 dengan luas serangan 77,45 ha, meningkat menjadi 443,75 ha tahun 2007 dan tahun 2009 seluas 272 ha tersebar di Kabupaten Lombok Tengah, Lombok Timur, Sumbawa dan Bima. Serangan dengan luasan tersebut cukup bagi petani untuk selalu waspada terhadap timbulnya ledakan wereng coklat terlebih dalam kondisi penyimpangan iklim berupa kemarau basah yang memicu perkembang-biakan secara luar biasa.

Mengenal Wereng Coklat

Wereng coklat merupakan serangga berukuran kecil, panjang badan sekitar 2,6-2,9 mm, serangga dewasa berwarna coklat kehitaman, bergerak dengan berjalan dan terbang. Serangga dewasa berada dalam dua wujud yaitu bersayap panjang atau macroptera dan bersayap pendek atau brachyptera (Gambar 1.). Nimpa wereng coklat berwarna krim akan berubah menjadi keabuan seiring dengan usia, panjang  nimpa dewasa sekitar 2,1 mm, bersamaan dengan itu garis hitam pada torax mulai menghilang.

Telur wereng coklat berwarna putih krim, semakin lama berubah warna menjadi gelap, berukuran panjang 0,9 mm, lebar 0,2 mm. Seekor serangga mampu bertelur sebanyak 100-500 butir yang diletakkan secara berkelompok.

Siklus hidup wereng coklat cukup singkat sehingga proses pergantian generasi berlangsung dengan cepat. Stadia telur berlangsung selama 4-8 hari, stadia nimpa 14 hari dan stadia dewasa (imago) 10-20 hari. Secara keseluruhan siklus hidup wereng coklat berkisar antara 28 – 42 hari. Serangga dewasa khususnya yang bersayap panjang mempunyai kemampuan terbang (migrasi) sekitar 200-300 km. Siklus hidup yang singkat, kemampuan bertelur yang sangat tinggi dan kemampuan terbang yang cukup jauh menjadikan wereng coklat sebagai salah satu hama yang sulit dikendalikan akibat perkembang-biakan dan pergerakan yang cepat.

Gejala Kerusakan Tanaman

Nimpa dan serangga merusak tanaman dengan cara mengisap cairan batang (Gambar 2), menyebabkan batang dan daun menjadi kering dan berwarna coklat yang dikenal dengan hopperburn (Gambar 3). Serangga dewasa bersayap pendek memiliki kemampuan menghisap dua kali lebih besar dibandingkan serangga bersayap panjang, artinya semakin banyak populasi serangga bersayap pendek semakin cepat terjadinya gejala hopperburn. Pada serangan ringan gejala tersebut belum nampak sehingga seringkali membuat petani terkecoh, seolah-olah tidak ada serangan. Pada  serangan tahap awal daun dan batang masih berwarna hijau walaupun di sekliling rumpun dijumpai ratusan ekor nimpa dan serangga dewasa (Gambar 2). Gejala pertanaman mengering baru nampak pada serangan tahap lanjut dengan intensitas berat.

Gejala tanaman mengering mula-mula berupa spot setempat-setempat di bagian tengah petakan, kemudian akan menyatu sehingga seluruh pertanaman mengering. Pada kondisi demikian wereng coklat sangat sulit dikendalikan karena populasinya sangat tinggi. Hopperburn terjadi bila dalam satu rumpun tanaman dijumpai sekitar 400-500 ekor nimpa atau 200 ekor serangga dewasa. Wereng coklat dapat menyerang semua stadia tanaman, tetapi yang paling rentan adalah pada stadia pembentukan anakan sampai stadia generatif.

Lingkungan Yang Disukai

Telah diungkapkan bahwa intensitas serangan hama wereng coklat dipengaruhi oleh populasi, dan populasi tinggi akan menyebabkan terjadinya ledakan. Secara umum ledakan hama wereng coklat akan timbul apabila lingkungan untuk berkembang-biak cukup kondusif diantaranya:

  • Hujan berlebihan di musim kemarau atau kemarau basah akibat penyimpangan iklim.
  • Penyimpangan iklim menyebabkan suhu minimum 1-2°C lebih tinggi dibandingkan kondisi saat iklim normal.
  • Penyimpangan iklim menyebabkan kelembaban nisbi 6-10% lebih tinggi dibandingkan kondisi saat iklim normal
  • Tanam tidak serentak dalam satu hamparan, terutama karena tersedianya air yang cukup selama musim kemarau. Akan lebih berbahaya apabila terdapat pertanaman padi sepanjang tahun.
  • Pertanaman tergenang terus-menerus
  • Pemupukan nitrogen berlebihan.
  • Varietas rentan (ketan, varietas lokal dan hibrida).
  • Perubahan biotipe ditandai dengan munculnya populasi Biotipe 4.
  • Penggunaan insektisida pada fase awal pertumbuhan ( sampai umur sebulan), menyebabkan tingginya kematian musuh alami.
  • Jarak tanam terlalu rapat yang menyebabkan tingginya kelembaban sekitar pertanaman

Upaya Pengendalian

Dalam upaya pengendalian, hal yang paling perlu dilakukan adalah pencegahan sebelum terjadinya serangan, mengingat serangan wereng coklat baru nampak gejalnya apabila terjadi kerusakan berat. Dalam kondisi pertanaman yang terserang berat atau hopperburn biasanya tanaman tidak menghasilkan sama-sekali (puso). Karena itu mengenal cara hidup dan kondisi lingkungan yang mendukung perkembang-biakan hama perlu dipahami. Dalam kondisi penyimpangan iklim tahun ini dimana curah hujan musim kemarau demikian tinggi, sehingga sebagian petani mengganti palawija dengan tanaman padi pada MK II 2010 dan waktu tanam cendrung tidak serempak. Hal ini menyebabkan adanya pertanaman padi sepanjang tahun yang diikuti pertanaman padi MH 2010/2011. Dalam situasi ini kewaspadaan terhadap kemungkinan terjadinya ledakan wereng coklat perlu ditingkatkan. Upaya pengendalian yang dianjurkan meliputi:

  • Bertanam serempak untuk memperpendek tenggang waktu  tersedianya makanan dan inang wereng coklat guna memutus siklus perkembang-biakan
  • Penyemaian benih dilakukan 15 hari setelah puncak penerbangan (jumlah tertinggi wereng coklat yang tertangkap lampu perangkap). Contoh, puncak penerbangan terjadi pada tanggal 31 Oktober maka menyemai benih sebaiknya tanggal 15 November sehingga pada saat stadia nimpa pertanaman padi belum dipindahkan akibatnya tidak tersedia makanan untuk stadia hidup berikutnya.
  • Tanam varietas tahan seperti IR-66, IR-74 dan yang terbaru INPARI-13. Hindari penanaman varietas peka seperti Cisadane, Cisanggarung, varietas lokal dan ketan serta padi hibrida terutama di daerah endemis wereng coklat.
  • Hasil penelitian BB Padi menunjukkan populasi tertinggi wereng coklat terjadi saat tanaman berumur 75 hari dengan populasi dalam 30 rumpun per varietas adalah:
  • IR-74: 200 ekor; IR-64: 1.700 ekor; Hibrida Hipa-3: 2.900 ekor; Cisanggarung: 4.000 ekor dan Cisadane 5.500 ekor.
  • Lakukan pengamatan di pertanaman setiap 1-2 minggu, periksa 20 rumpun tanaman pada arah diagonal petakan kemudian dihitung jumlah wereng coklat sayap panjang, sayap pendek dan nimpa. Bila rata-rata wereng dan nimpanya adalah 3 – 4 ekor/rumpun pada tanaman berumur kurang dari 40 hari setelah tanam atau rata-rata 5 ekor atau lebih/rumpun  pada tanaman berumur lebih dari 40 hari setelah tanam berarti sudah mencapai ambang ekonomi, lakukan pengendalian dengan insektisida yang dianjurkan.
  • Pengendalian dengan insektisida dilakukan secara tepat yaitu:
  1. Keringkan pertanaman padi sebelum aplikasi insektisida cair maupun padat
  2. Aplikasi setelah embun mengering hingga jam 11.00, bila belum selesai dilanjutkan sore  hari
  3. Insektisida disemprotkan pada batang padi bukan pada daun
  4. Gunakan insektisida berbahan aktif Imidakloprid, Fipronil dan Theametoxam
  5. Cairan semprot sekitar 350-500 l/ha
  • Tuntaskan pengendalian insektisida pada generasi ke 0  yaitu saat terjadinya puncak penerbangan serangga dewasa atau paling telat pada generasi ke 1 yaitu  serangga dewasa yang terbentuk pada 25-30 hari setelah puncak penerbangan.
  • Pengaturan air dengan sistem basah-kering atau Alternate Wetting and Drying (AWD) yang dapat dibuat dari batang bambu.
  • Hindari penggunaan pupuk N berlebihan dengan menggunkan Bagan Warna Daun (BWD)
  • Tanami pematang dengan kacang-kacangan yang dianjurkan seperti kedelai atau kacang hijau untuk memperkaya musuh alami

Utamakan pengendalian secara hayati (sumber : Lalu Wirajaswadi)

 
Joomla Templates by JoomlaVision.com